A Little Life, My 2017 Favorite Book So Far

Pernahkah kamu merasa hidupmu terlalu sulit untuk dijalani? Atau, berbagai masalah silih berganti, datang dan begitu besar untuk kamu selesaikan sendiri?

Membaca buku A Little Life karya Hanya Yanagihara membuka mata saya. Di balik kesukaran hidup dengan masalah dan cobaan, selalu ada hikmah yang bisa kita tuai. Pilihannya, apakah kita lebihmau melihat hal-hal baiknya ataukah buruknya. Ya, memang tidak mudah. Namun, begitulah hidup seharusnya. Batu sandungan sekalipun kerikil akan selalu menunggu di jalan yang kita lalui, betapa pun lurus jalan yang kita ambil.

Sekali lagi, A Little Life memberi saya makna. Hidup kadang tak sesuai dengan harapan. Keinginan kadang hanya keinginan dan tidak bisa diwujudkan. Hidup, begitulah adanya.

A Little Life menyuguhkan kisah persahabatan empat laki-laki – Willem, Malcolm, JB dan Jude. Setebal 720 halaman, kisah yang menyentuh dan mengharukan, membuat bekaca-kaca dan (sedikit) bahagia.

Lembar demi lembar, saya buka. Sedikit adjektiva, banyak kata kerja dan dialog karakter yang jarang membuat saya sedikit bosan. Anehnya, saya tetap tertarik dengan kisahnya. Saya pun meneruskan membacanya. Saya seperti menyelami kehidupan karakter-karakternya. Saya merasakan apa yang mereka rasakan. Saya ikut kalut saat mereka bersedih, saya pun bahagia saat mereka berbahagia.

Dan, bisa saya katakan. Everything about this book is all blue. Tidak selalu sedih memang, tetapi sangat jarang kebahagiaan datang kepada karakter-karakternya.  Even the bands are so pathetic!

“…ironic thrasher bands, ironic folk bands, ironic accoustic bands – had also rented the studio there….”

Dalam chapter ‘The Axiom of Equality’, saya juga menemukan filosofi. It’s not pretentious as you might think, but beautiful.

“We can say that the life itself is the axiom, of the empty set. It begins in zero and ends in zero. We know that both states exist, but we will not be conscious of either experience: they are states that are necessary parts of life, even as there cannot be experienced as life. We assume the concept of nothingness but we cannot prove it. But it must exist.”

Saya juga menemukan cinta sejati dalam buku ini. Saat akhirnya Willem mengakui dirinya jatuh cinta pada Jude. Gay love, it is. Tetapi, Willem tidak pernah menyebutnya demikian. Dia menyayangi Jude karena dia Jude. Jude si pintar, pengacara hebat. Jude si misterius. Jude, the broken man.

“I didn’t really think of myself as a gay, though,” he said.

Akhirnya, saya harus mengakui. Saat menyelesaikan membaca karya Hanya Yanagihara ini, saya menangis berjam-jam. Saya menangisi kehidupan Willem dan Jude dan Malcolm dan JB. It’s devastating and overwhelming. Seolah saya benar-benar mengenal mereka. Seolah saya ada di sana, menyaksikan hari-hari mereka hingga akhir.

Dari Lispenard Street Menuju Lispenard Street

Jude, Willem, Malcolm dan JB berteman sejak menempuh kuliah di sebuah universitas di Massachusetts. Setelah lulus, keempatnya memutuskan untuk pindah ke New York. Hidup pas-pasan, bergantung hanya pada ambisi dan harapan.

Jude, seorang yang cerdas, pintar dalam berlogika namun misterius. Willem, tampan, memiliki bakat akting luar biasa. Malcolm, seorang arsitek dengan ambisi besar namun mudah merasa gagal. Dan, seorang pelukis, gay, berkulit hitam, JB.

Seiring berjalannya waktu, kisah persahabatan keempatnya mengerucut pada dua tokoh, Willem dan Jude. Lalu, berpusat pada Jude seorang. Jude si broken man akhirnya bisa menjadi pengacara hebat dan disegani, memiliki materi bahkan sebanyak yang tidak pernah dia bayangkan. Sayangnya, Jude masih ‘melihat ke belakang’. Trauma masa kecilnya terus menerus menghantui, ketakutan masa depan pun selalu membayangi. Dia pun harus terus berjuang, menata hidup untuk meraih kebahagiaan.

(4,5/5)

1 comments On A Little Life, My 2017 Favorite Book So Far

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer