Sedang mencari film romansa yang berbeda dari film kebanyakan? Film Italia Call Me by Your Name bisa menjadi rekomendasi yang akan membuat Anda terbengong-bengong menontonnya. Yups, film ini memang mendapat respon sangat positif dari pecinta film dunia. Film yang disutradarai oleh  Luca Guadagnino ini juga diganjar  berbagai penghargaan mulai dari Writers Guild of America Awards hingga Oscars. Di film yang berlatar tahun 1980-an ini, Timothee Chalamet (Elio) dan Armie Hammer (Oliver) hadir sebagai pemeran utama.

Kisah romansa gay ini dimulai saat liburan musim panas tiba. Ellio dihinggapi rasa senang sekaligus penasaran menantikan kedatangan tamu musim panasnya. Oliver, asisten riset Mr. Perlman – diperankan Michael Stuhlbarg, adalah seorang Yahudi Amerika yang hendak menghabiskan liburan musim panasnya di Italia, tepatnya di kediaman Ellio.

Awalnya, Ellio tidak menyukai sikap Oliver si turis Amerika yang arogan dan terkadang kurang sopan. Tetapi, hari demi hari hal tersebut justru membuat Ellio penasaran, dan semakin penasaran dibuatnya. Suatu hari, Ellio yang hobi menulis lagu, memainkan salah satu lagu ciptaannya. Oliver yang mendengar alunan musik Ellio ternyata menunjukan rasa sukanya. Dan, romansa pun dimulai.

Berlatar belakang negara asal pizza a.k.a Italia 30-an tahun yang lalu, kehidupan yang digambarkan begitu sempurna. Bahkan, seolah terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Makan malam di bawah langit bertabur bintang, atau sarapan ditemani desiran angin. Atau, memetik buah di kebun sendiri, dengan halaman yang luas dilengkapi kolam renang pribadi. Satu hal lagi, dan bayangkan, memiliki orangtua yang sangat terbuka dan bijaksana. Rasanya seperti mimpi saja.

Dari segi cerita, plot Call Me by Your Name cukup tak terduga. Baik kisah cinta hingga cerita secara keseluruhan. Terlebih dengan karakter-karakternya, sifat hingga kebiasaan hidup orang Italia (baca: jaman tahun 1980an) sungguh sangat menghibur dan memberi wawasan. Dan, akting sang tokoh utama sangat luar biasa. Siapa yang sangka, Timothee Chalamet bisa bermain peran dengan begitu mempesona, natural dan all out. Jika bisa, saya pasti akan menanyakan banyak pertanyaan ‘kenapa bisa?’ kepada aktor berusia 22 tahun itu.

Satu hal yang sebetulnya ‘kurang’ menurut saya, judulnya. Kenapa? Menurut saya judulnya itu kurang ‘dapet’ karena tidak menggambarkan cerita secara keseluruhan. Adegan (bagian) Call Me by Your Name bisa dibilang hanya gimik dalam sebuah pertunjukan, dan kurang grand untuk bisa dianggap sebagai gambaran umum cerita. Jadi, semoga sineas-sineasnya bisa memilihkan judul yang lebih mengena di film-film mereka selanjut.

(7/10)

Sinopsis

Musim panas menjadi momen yang selalu dinanti, termasuk untuk Ellio Perlman. Tidak hanya musim, ia juga menanti seorang tamu dari Amerika yang akan menginap di rumahnya selama liburan. Saat Oliver sang tamu tiba, justru Ellio kurang menyukainya. Hari berlalu, rasa suka pun mulai tumbuh. Dari mulai berjalan-jalan ke pusat kota, hingga berenang di danau. Keduanya mulai menyimpan rasa, sampai akhirnya salah satu dari mereka mengungkapkan perasaan. Akankah keduanya menjadi sepasang kekasih?

 

Want to read more like this? Go check out Moonlight.

1 thought on “Call Me by Your Name”

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.