Dilan 1991

Nyangka nggak nyangka saya nonton Dilan 1991! FYI, saya jarang banget nonton film lokal di bioskop. Saya emang agak picky kalau soal tontonan gini. Tapi ini semata-mata karena saya ingin memastikan the movie I watch is worth ever penny I spend. Hehe, jangan diikutin yak.

Tapi kali ini agak berbeda. Hubby ceritanya pengen banget nonton film sekuel Dilan. Alasannya? Pertama, karena dulu kita sempat menonton sekuelnya yang pertama lewat streaming. Kedua, karena katanya filmnya bikin baper. Ketiga, karena saya tidak melihat ada film lain yang oke, maka jadilah saya menyetujui menonton Dilan 1991. “Itung-itung hiburan,” pikir saya.

Tidak seperti Dilan 1990, di film kedua ini saya tidak membaca Dilan 1991 novel terlebih dahulu. Sehingga, tidak ada ekspektasi apapun sebelum menonton filmnya. Biarkan mengalir saja.

Dilan 1991 Review

Di awal-awal film, adegan demi adegan berasa lama sekali berlalu. Dengan joke yang menurut saya receh (baca: super receh), saya bingung harus bereaksi bagaimana. Mau ketawa nggak lucu, mau diem aja yang lain pada ketawa. Dan bisa saya katakan, ini joke-nya nggak saya banget. If someone made that jokes in front of my face, I would laugh at him instead of his jokes!

Kemudian, Dilan 1991 cerita terus berlanjut hingga tibalah kita di tengah-tengah konflik. Di sini, film mulai terasa gregetnya. Mulai terasa menariknya. Dan dari sini, mulailah saya terbawa suasana di film yang disutradarai oleh sang penulis buku Dilan aka Ayah Pidi Baiq dan Fajar Bustomi ini. Pun hingga film ini selesai, saya masih merasakan emosi-emosi tokoh-tokohnya. “Tadi aku rasanya pengen nangis deh, ada bagian yang ngena banget,” Hubby said.

Dari tengah sampai Dilan 1991 ending inilah memang joke-nya sudah mulai terasa bervariasi dengan konfliknya yang makin kompleks. Saya pun setuju dengan pendapat Hubby, di mana film Dilan 1991 durasi 2 jam 1 menit ini ngena banget feel-nya di menit-menit pertengahan hingga akhir. Di sini kita disuguhkan adegan-adegan yang menunjukan betapa tulus perasaan Dilan untuk Milea. Caranya mencintai memang terbilang unik dan kadang nyeleneh. Tapi itulah yang membuat kita haru dan merasa dekat dengan kisah keduanya.

Di antara sekian banyak adegan, yang paling favorit buat saya adalah saat Dilan (Iqbaal Ramadhan) datang bersama geng motornya mendatangi rumah Milea (Vanesha Prescilla). Saat itu malam Minggu, dan Kang Adi (Refal Hady), guru les yang naksir Milea sedang mencoba merayu Milea di rumahnya tersebut. Adegan ini sangat epic menurut saya, bikin ketawa sekaligus pengen ngomong, “good job, Dilan.”

Oh ya, untuk Dilan 1991 cast ternyata ada pula aktor-aktris kawakan yang bermain di Dilan 1991. Ada Maudy Koesnaedi, Bucek Depp, Ira Wibowo, Farhan dan Happy Salma. Bahkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil kembali ikut meramaikan film yang sudah ditonton lebih dari 5 juta penonton ini.

Bagi sebagian orang, adegan demi adegan dan keromantisan ala Dilan dan Milea ini bisa bikin senyum-senyum sendiri. Karena begitulah yang saya perhatikan setidaknya terjadi pada dua orang di kiri kanan saya. Sebelah kiri Hubby, kanan si mbak-mbak yang terus menerus tertawa dengan mata berbinar-binar – no exageration, I did see her do it. Namun, sekuel kedua film Dilan ini menurut saya tidak lebih bikin baper ketimbang film terdahulunya.

Dilan 1991 mulai tayang di bioskop 24 Februari 2019 yang lalu di mana tanggal tersebut di Bandung dijadikan sebagai “Hari Dilan”. Film yang diadaptasi dari novel best-seller Pidi Baiq ini pun masih nangkring di Box Office hingga sekarang. Jadi, buat kamu yang belum sempat menyaksikan filmnya, ajak serta sahabat atau pasangan biar makin seru saat nonton film ini.  Bagi kamu yang masih duduk di bangku SMA atau at least lebih muda dari saya, nonton Dilan 1991 dijamin bakalan baper.

Rating: 7,5/10

Want to read more like this? Go check out Everything, Everything.

(Sumber foto: movimax.co.id)

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.