Everything, Everything

Everything, Everything yang diangkat dari buku best-seller karya Nicola Yoon bisa jadi sebuah fenomena baru film Barat. Atau, bisa dibilang sebagai gebrakan baru (baca: dan berani) dalam dunia perfilman Hollywood. Betapa tidak, film arahan sutradara Stella Meghie menghadirkan seorang aktris kulit hitam sebagai pemeran utamanya – Amandla Stenberg sebagai Maddy Whittier, dipasangkan dengan cowok kulit putih Nick Robinson (sebagai Olly Bright). Untuk hal tersebut, saya ikut acungi jempol karena semakin terlihat betapa saat ini Amerika semakin ‘terbuka’ dengan keberadaan orang-orang kulit hitam. Sayangnya, untuk ceritanya sendiri saya kurang suka.

Menceritakan Maddy, seorang gadis yang terkurung di rumahnya sendiri karena dinyatakan mengidap kelainan sistem imun, lebih tepatnya severe combined immunodeficiency (SCID). Kelainan tersebut membuatnya tidak bisa berinteraksi dengan benda atau pun orang luar karena bisa menularkan kuman atau pun bakteri yang bisa langsung menyerang tubuhnya. Sehingga, rumahnya pun dibuat sedemikian rupa untuk membuatnya betah 24 jam per 7 hari berada di dalamnya. Namun, naluri alamiah manusia mendorongnya untuk melihat dunia luar, seperti orang-orang lain. Dan hal itu pun dialami Maddy. Bahkan, dorongan tersebut semakin kuat dengan kehadiran Olly. Tetangga baru, yang menaruh hati padanya.

Sisanya, bisa kalian tebak sendiri. Ya, menurut saya alurnya sangat predictable. Itu pula lah yang membuat saya tidak memiliki keinginan untuk membaca bukunya. Bahkan, menurut saya ada yang kurang pas dari kisah Maddy – Olly ini. Bisa-bisanya seorang anak yang sudah dibesarkan selama 18 tahun lamanya plus 9 bulan saat dalam kandungan, tega meninggalkan ibunya yang tinggal hanya seorang diri, demi mendapatkan kebebasannya. Terlalu berlebihan.

Go watch the movie, you’ll know what I mean.

(2.7/5)

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer