Buat saya, Flawed karangan Cecelia Ahern ini menjadi Hunger Games versi lain. Paling tidak, di sekuel pertama ini ceritanya memang mirip-mirip seperti yang dikisahkan di The Hunger Games. Namun tidak seperti di kisah fiksi karangan Suzanne Collins yang cukup kompleks, alur cerita Flawed agak sedikit kurang ‘bumbu’. Kekurangan karakter dan punch line. Jadi, sebenarnya agak sedikit membosankan.

Sama seperti di The Hunger Games, Anda akan disuguhkan kisah keberanian si Poster Girl. Dalam hal ini, Celestine North menjadi karakter utama dan digambarkan/diarahkan menjadi tokoh bak Katniss Everdeen dalam The Hunger Games. Namun demikian, si Celestine ini masih sedikit bimbang dalam perannya. Satu waktu dia percaya tindakan yang dia lakukan adalah tindakan yang benar. Lain waktu, dia terpuruk menyesali apa yang telah dia lakukan. Selain itu untuk menjadi tokoh kuat yang menjadi ‘pegangan’ banyak orang, Celestine – menurut saya, belum lah pantas. Kenapa? Karena dia hanya melakukan satu tindakan, lalu seperti sudah bisa dibaca, dia dijatuhkan sejatuh-jatuhnya oleh si antagonis dan begitu dipuja oleh pendukungnya. Paling tidak, seharusnya si penulis menguatkan terlebih dahulu karakter si Ms. North ini.

Selain itu, konflik-konflik yang dialami Celestine juga sangat klise untuk ukuran seorang Poster Girl. Drama percintaan sampai menjadi objek bully teman-temannya adalah ‘bumbu’ yang menurut saya terlalu picisan. Well, mungkin karena memang genre-nya sendiri ya Young Adult (YA), jadi saya sendiri saat mulai membacanya tidak begitu berharap banyak.

Meskipun demikian, yang menjadi highlight buku ini sebenarnya merupakan hal yang cukup berat yakni menyoal Hak Asasi Manusia (HAM). Hingga saat ini pelanggaran HAM memang masih banyak terjadi di mana-mana. Kita sering lupa, bahkan pesakitan sekalipun masih memiliki HAM yang harus tetap dipenuhi. Ini juga yang terkadang dilalaikan oleh pemerintah. Pesakitan seolah secara mutlak terkurung dan kehilangan semua hak-haknya sebagai manusia.

Selain itu, buku ini juga menggambarkan gerakan perlawanan masyarakat terhadap pemerintah yang korup. Bagi pendukung pemerintah yang biasanya merupakan mayoritas, mereka begitu memuja, begitu mengelu-elukan junjungannya tersebut. Itu pula lah yang terkadang membuat mereka buta akan kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah. Mereka sudah tidak dapat melihat cacatnya, yang mereka lihat hanyalah kesempurnaan pemimpin yang mereka agungkan. Bahkan jika mereka merasa pemerintah salah dalam satu hal, cepat-cepat mereka akan mengoreksi pemikiran tersebut dan menyalahkan diri sendiri. Menganggap diri luput, berasumsi bahkan berhalusinasi. Mungkin itu juga yang terjadi di negara kita ya? Eh..

(3/5)

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.