KRL - Kursi Pojok untuk Lansia

Memasuki kereta, kulihat seorang nenek tua duduk bersebelahan dengan seorang pemuda. Si pemuda memakai earphone sambil ketak-ketik di layar gawainya, sesekali tertawa, mengetik kembali untuk kemudian tertawa lagi.

Mereka berdua duduk di kursi pojok untuk lansia, ibu hamil, ibu membawa balita dan penyandang disabilitas – setidaknya itu yang dikatakan oleh petugas kereta melalui pengeras suara.

“Kami juga menyediakan kursi prioritas yang berada di sudut-sudut kereta, diperuntukkan bagi lansia, ibu hamil, ibu dengan balita dan penyandang disabilitas,” begitu katanya. 

Namun, suara petugas kereta tersebut nampaknya hanya numpang lewat saja. Orang turun dan naik langsung menyerbu tempat duduk, tak peduli di pojok atau di tengah, semua terisi oleh semua usia. 

Kereta belum terlalu penuh, hanya satu dua orang berdiri. Di pojok, kulihat si nenek tua sudah berteman dengan satu pemuda lagi, serta seorang wanita muda yang baru naik di Stasiun Kemayoran. Tidak ada obrolan di antara keempatnya, hanya duduk diam tak ambil pusing orang-orang di samping, apalagi di sekelilingnya.

Kereta tiba di stasiun Kampung Bandan, orang-orang menyerbu masuk, sementara hanya satu dua yang turun. Kereta pun penuh. Banyak yang berdiri, banyak pula yang membawa barang-barang untuk berjualan. Tak terkecuali seorang laki-laki paruh baya, usia sekitar 50-an, yang membawa berkardus-kardus mainan, mungkin untuk dijajakkan. Si laki-laki paruh baya tengok kanan-kiri, berharap ada tempat duduk kosong atau ruang yang cukup luas untuk meletakkan barang-barangnya. Sempat pula ia menengok si nenek tua dengan teman muda-mudinya, kemudian segera bergeser ke tengah mencari-cari tempat, untuknya dan barang-barangnya. Ia lalu menyerah, tak ada tempat duduk, atau ruang kosong baginya. Akhirnya ia memutuskan minggir, berdiri di dekat pintu, dekat si nenek tua, dan barang-barangnya ia tumpuk begitu saja di lantai kereta.

Si laki-laki paruh baya kemudian bersandar pada tiang-tiang besi samping kursi, matanya menerawang, menikmati pemandangan rumah-rumah petak Kampung Bandan.

“Kenapa si pemuda di kursi pojok tidak merelakan tempat duduknya untuk si laki-laki paruh baya?” tanyaku dalam hati.

“Oh kursi pojok untuk lansia,” pikirku.

Kulihat si pemuda samping nenek tua masih sesekali tertawa, si pemuda lainnya tertidur atau mungkin pura-pura tidur, dan si pemudi juga asik memainkan gawainya, ketak-ketik lincah dengan jarinya.

Kampung Bandan berlalu, Angke menjelang. Si nenek tua di kursi pojok beranjak, bersiap diri untuk menyambut tujuan. Tak menunggu waktu lama, seorang wanita muda yang sebelumnya berdiri bergegas menempati tempat duduk si nenek tua tadi. Si nenek masih berdiri, berpegangan pada besi-besi samping kursi, menunggu kereta berhenti.

“Ah nggak dapat tempat duduk lagi,” mungkin pikir si laki-laki paruh baya. Sesekali kulihat ia masih menengok kanan-kiri, siapa tahu ada pemuda atau pemudi yang merelakan tempat duduk untuknya. Tak perlu di kursi pojok, pikirnya. Tengah pun tak masalah. Kardus-kardus mainannya bisa ia tumpuk di depannya. 

Kereta melaju, si laki-laki paruh baya masih berdiri, masih menatap sela kaca di pintu kereta. Mungkin sambil berpikir, “tak adakah yang sudi memberikan tempat duduk untukku?

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.