my acne journey

Nulis artikel ini awalnya berasa malu dan kayak mau ngebuka aib sendiri. Soal jerawat emang cukup sensitif ya, cewek maupun cowok. Jadi, mikir-mikir sebenarnya. Tapi, akhirnya saya memutuskan untuk nulis ini juga karena ingin sharing pengalaman aja. Karena nggak sedikit dari kita yang punya masalah dengan jerawat.

Dari pengalaman, punya jerawat itu nggak cuma sakit secara fisik loh. Tapi juga mental kita ikut terpengaruh, ngerasa insecure dan rasa percaya diri berkurang. Jadi, saya berharap sharing pengalaman ini bisa berguna dan membantu teman-teman yang juga punya masalah yang sama dengan saya. Oh ya, semua produk atau pun jasa yang saya sebutkan di artikel ini bukan sebagai bentuk promosi ya. Saya juga nggak ada niatan sama sekali buat menjelekkan salah satu produk. Ini semata hanya berdasarkan pengalaman saya dengan kondisi kulit saya. Jadi, hasil dari produk maupun perawatan akan berbeda pastinya bagi teman-teman yang lain.

My Skin Type

Tipe kulit saya adalah berminyak, parahhhh! Yep, parah banget bisa sampai meling-meling dan kalau tangan nempel tuh bisa kerasa banget tebelnya lapisan minyak di wajah. Kalau pagi misalnya, setelah pakai produk perawatan dan bedak, cuma bisa tahan maksimal 2 jam saja. Setelah itu, cuci muka apply lagi. Udah gitu tiap hari sampai sekarang.

Meskipun demikian, kondisi wajah saya yang sekarang ini sebenarnya sudah jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Dulu, jerawat itu jadi momok yang super duper menakutkan buat saya. Gimana nggak, tiap muncul rombongan tapi pas ilangnya lama dan satu-satu.

Jerawat di muka saya tipenya lebih sering yang jerawat batu atau dalam istilah medis disebut Cystic Acne. Bayangin aja, pas mau muncul itu kulit bisa merah dan bengkak gede. Setelah muncul jadi jerawat, keras dan sakit. Itupun nggak langsung bisa hilang. Harus melewati proses pematangan yang berhari-hari bahkan minggu. Padahal ukurannya jerawat tersebut sangat mencolok dan pastinya jadi perhatian banyak orang. Eh, pas udah keluar itu isi jerawat dampaknya juga masih ada, yaitu bopeng. Stress? Banget!

My Acne Journey

Jerawat mulai muncul dimuka saat saya mulai pubertas, kira-kira awal SMP. Saat itu, jerawat yang muncul hanya satu dua. Akibat kurangnya pengetahuan saya, saya sering pegang dan mencetin tuh jerawat. Gemes juga soalnya. Lalu, lihat iklan produk kecantikan di TV saya pun tertarik dan membelinya. Ponds jadi produk kecantikan yang pertama kali saya beli termasuk facial foam, toner dan krimnya. Kemudian, ada lagi iklan TV yang menampilkan produk dengan brand Citra. Kali ini lebih menggiurkan, yakni menjual produk berbahan green tea yang diklaim sebagai produk untuk menuntaskan jerawat. Buru-buru saya pun beli produknya dan meninggalkan produk yang sebelumnya saya pakai.

Beberapa waktu kemudian, saya merasa produk-produk Citra ternyata tidak terlalu berpengaruh dan jerawat tetap muncul. Saya memutuskan untuk kembali memakai produk Ponds. Saat memakai produk ini, saya memang merasa kulit wajah lebih cerah meskipun tidak terlalu berpengaruh pada jerawat. Akhirnya, produk ini saya pakai hingga jaman kuliah.

Kebetulan saat itu saya kuliah di Semarang, lumayan kota dan aksesnya lebih mudah untuk mendapatkan ragam produk kecantikan lainnya. Di sini, saya sempat juga mencoba garnier mulai dari facial foam, krim pagi sampai krim malam. Wanginya segar, dan cukup berpengaruh menghilangkan jerawat. Tapi, saya belum puas. Karena jerawat-jerawat batu masih tetap bermunculan.

Larissa Aesthetic Center Review

Kira-kira memasuki semester 3, saya mulai berkenalan dengan klinik kecantikan. Awalnya, saya diajak teman untuk berkonsultasi ke Larissa Aesthetic Center cabang Jalan Kariyadi, Semarang. Lalu, saya pun cukup rajin perawatan dan memakai produk-produknya.

Yang saya suka dari klinik ini adalah, harga produk maupun perawatannya cukup bersahabat dengan kantong mahasiswa. Tapi di sisi lain saya sebenarnya masih kurang puas juga karena efek yang diberikan selama memakai produk maupun perawatannya kurang signifikan. Kalau kata teman saya, “krim-krimnya emang lama ngefeknya, tapi nggak bikin ketagihan buat kulit jadi aman.” Oke, saya pun meyakinkan diri untuk tetap memakai produknya. Setelah satu tahun lamanya, akhirnya saya merasakan kulit saya jadi lebih halus dan jauh lebih cerah. Tapi, sekali lagi jerawat tetap ada dan nggak cuma satu dua.

Cukup lama saya memakai produk dan perawatan di Larissa Aesthetic Center ini. Sejak semester 3 di tahun 2011 sampai akhirnya lulus dan pindah ke Jakarta di tahun 2015. Sempat pakai produknya (lupa apa saja dulu) dan perawatan seperti Larissa facial acne, jujur efeknya di wajah saya nggak terlalu signifikan. Bahkan di tahun saya sudah di Jakarta, produk-produk yang saya pesan dari Larissa Aesthetic Center melalui website-nya – Larissa di Jakarta tidak ada, berasa tidak berpengaruh sama sekali. Dulu saya berpikir jika kondisi udara, air dan mungkin tingkat stress yang saya rasakan di Jakarta berbeda dengan saat di Semarang. Akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti pakai perawatan dari klinik yang sudah menemani perjalanan jerawat saya selama kurang lebih 4 tahun ini.

Berhenti dari Larissa, bersyukur wajah saya tidak mengalami breakout. Hanya jerawat-jerawat biasa yang muncul seperti sedia kala. Di titik ini, saya memulai perjalanan baru saya untuk kembali mencari skin care untuk mengatasi problema kulit wajah saya. Setelah membaca berbagai forum, saya akhirnya mantap untuk membeli produk The Body Shop yang tea tree series.

Satu bulan berlalu, saya tidak merasakan adanya perubahan. Saya putus asa, dan bertanya-tanya ke teman-teman saya mengenai rekomendasi klinik kecantikan. Sebelumnya saya sempat berpikir tidak ingin memakai produk-produk klinik kecantikan lagi. Namun ternyata, kondisi jerawat yang makin parah bikin saya mikir ulang. Dan jujur, stress banget saat itu.

RNH Skin Care Review

Setelah bertanya-tanya kepada teman-teman yang memakai skin care dari klinik kecantikan, berkenalanlah saya dengan RNH. Kelebihannya, klinik ini dokternya memang spesialis kulit dan kelamin, dr. Rani Novian.

Sebelum memutuskan pergi ke klinik ini, saya sempat ragu. Karena semua review bilang kalau efek krim-krim dr. Rani ini bikin sangat mengganggu penampilan di 3 bulan pertama. Ngelupas parah, kulit kemerahan dan perih. Saat itu, saya juga kepikiran beberapa opsi lain yakni Natasha dan Klinik Estetika. Tapi, karena teman sendiri ada yang sudah pakai RNH, saya membulatkan tekad untuk akhirnya ambil cuti kerja – karena hanya buka di hari kerja, dan datang ke klinik RNH.

Setelah antri kurang lebih 2 jam lamanya, akhirnya giliran saya berkonsultasi dengan dr. Rani. Di sini, konsultasinya singkat mungkin tidak lebih dari 5 menit. Dokter mengecek kondisi kulit dan jerawat-jerawat yang ada di muka. Dari hasil observasi singkat tersebut, dokter mengatakan jika saya memiliki ketidakseimbangan hormon. Saya memiliki hormone androgen yang jauh lebih banyak dibanding wajarnya perempuan. Akibatnya, minyak berlebih, hormon tidak seimbang dan bulu-bulu halus pun banyak.

Dokter akhirnya memberikan resep obat minum dan krim-krim wajah untuk saya. Obat minum ini, yang saya agak kaget, adalah pil KB. Tujuannya, pil KB tersebut akan mengurangi produksi minyak di wajah dan menyeimbangkan hormon secara keseluruhan. Saya pun manut, mengikuti anjuran dokter. Saya meminum pil KB secara rutin (walaupun saat itu saya masih belum menikah), serta memakai krim dari RNH ini.

Setelah 3 bulan, saya merasakan perubahan. Kulit saya mengelupas luar biasa parah dan panas, merah dan kadang muncul bitnik-bintik kecil bernanah. Jerawat besar muncul banyak di wajah. Di sisi lain, minyak di wajah produksinya memang berkurang drastis. Saya masih merasa tetap optimis akan hasil yang nantinya saya dapatkan. Saya masih rajin memakai produk-produk RNH tersebut, dan saya pun rutin datang berkonsultasi.

Satu tahun berlalu, saya tidak merasakan adanya perubahan signifikan. Kulit malah masih mengelupas – dikatakan sebelumnya jika setelah lewat 3 bulan maka kulit sudah beradaptasi dan tidak akan mengelupas lagi. Akhirnya, saya pun berhenti pakai produk skin care dari RNH.

Saya pun galau lagi. Bingung skin care atau klinik mana lagi yang bisa benar-benar mengatasi permasalahan kulit yang saya alami. Beberapa bulan, saya sempat kembali pakai The Body Shop yang tea tree series ditambah facial foam dan sheet mask dari Nature Republic – saat itu NatRep lagi booming banget. Dan lagi-lagi, nggak ada efek signifikan dan ngerasa pakai produk-produk ini semata buat nenangin hati aja.

Klinik Estetika Review

Hampir putus asa, tapi saya tetap berusaha dan kembali mencari saran-saran di forum-forum. Kembali, saya mempertimbangkan Klinik Estetika dr. Affandi. Setelah agak cukup lama menimbang pros dan cons-nya, saya memutuskan untuk berkonsultasi via online di https://klinikestetika.com/. Saya pikir, coba-coba dulu nanti kalau missal menang worth-it saya akan datang ke kliniknya. Ya, dari lokasi tempat tinggal saya memang agak jauh, saya di Jakarta Pusat sementara Klinik Estetika Jakarta Selatan (ada juga di Jakarta Barat).

Setelah konsultasi, keesokan harinya resep dan feedback dari dokter saya terima melalui email. Proses saya lanjutkan dengan order produk-produk Klinik Estetika sesuai yang diresepkan, via online juga. Di keesokan harinya, produk-produknya pun datang. Saya agak bingung awalnya dengan cara pemakaian produk-produknya. Stepnya lumayan banyak, misal untuk malam hari saja saya harus memakai 3 produk yaitu lotion malam, krim malam I dan krim malam III. Ditambah dengan cuci muka dengan Sabun Estetika dan lotion pembersih untuk kulit berminyak. Dan masing-masing pemakaian produk harus dijeda setidaknya 5 menit agak bisa meresap. Plus, aplikasi produk harus dilakukan 2 jam sebelum tidur. Ribet, banget.

“Tapi, nggak apa-apa. Demi wajah mulus dan bebas jerawat,” kata saya selalu agar tetap semangat pakai produk-produknya. Setelah 2 bulan, mulai kerasa ada perubahan. Jerawat sudah mulai hilang, dan nggak muncul jerawat baru. Namun, beberapa jerawat batu masih membandel. Di bulan ketiga, saya memutuskan untuk datang langsung ke Klinik Estetika Duren Tiga, Jaksel. Di sini, saya konsultasi dengan dokternya terlebih dahulu. Waktu itu saya ketemu dengan dr. Niken. Orangnya baik dan informatif. Saya disarankan untuk melakukan injeksi jerawat sekaligus microdermabrasi. Oke, saya ikut kata dokter dan melakukan treatment tersebut.

Ini pertama kali banget wajah saya dapat suntikan. Kaget, sakit tapi penasaran sama hasilnya. Setelah selesai, kaget nggak kaget sih dengan biaya yang harus dibayar. Nggak kaget, karena sebelumnya memang sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai harga di Klinik Estetika yang katanya menguras kantong. Kaget, karena ternyata biayanya sudah melebihi budget yang sudah saya targetkan waktu itu. Tapi, yasudahlah ya. Saya pun pulang dan mulai rajin pakai produk skin care Klinik Estetika.

Singkat cerita, saat ini saya sudah pakai produk dan perawatan Klinik Estetika selama 1 tahun lebih. Dan hasilnya, jerawat saya hilang, bekas-bekasnya juga mulai memudar, dan kulit lebih cerah. Meskipun di sisi lain, jerawat masih muncul sesekali saat PMS namun bisa hilang 2 harian jika dioleskan obat jerawat serta minyak di wajah pun masih banyak dan tidak berkurang, tapi secara keseluruhan saya puas memakai produk dan perawatan di sini.

Oh ya, selama memakai krim-krimnya juga saya merasakan tidak ada ketergantungan loh. Karena terkadang saya sesekali tidak pakai krim di malam hari, capek dan ngantuk biasanya bikin saya skip rutinitas ini. Dan, tidak menimbulkan efek apa-apa.

Sekian, terima kasih!

Want to read more like this? Go check out Belajar Bahasa Asing Sedari Dini.

(Sumber foto: Unsplash.com)

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.