Awalnya, saya ingin membahas tentang Seword ini dengan menyertakan berbagai macam teori, dengan memasukkan berbagai pendapat dari berbagai ahli bahasa, jurnal-jurnal ilmiah maupun buku-buku linguistik. Namun, saya memutuskan untuk akhirnya menulis ini berdasarkan pendapat saya pribadi, berdasarkan pengetahuan yang saya miliki (dan banyak keterbatasan). No hard feelings, okay?

I feel concerned about this, you know, dan gemas (to be exact). Saya ingin membahas mengenai seword.com ini dari segi bahasanya karena jika soal politik atau ekonomi itu bukan bidang saya. Bahasa, sesuatu yang tidak memiliki pakem mutlak. Seperti misalnya ‘house’ dalam Bahasa Inggris menjadi ‘rumah’ dalam Bahasa Indonesia. Apa rumusnya? Tidak ada.

Bahasa tidak ajeg, terus mengalami perubahan, terus mengalami perkembangan, dan bahasa bisa diartikan sesuai kemauan si pembaca atau tergantung sekemauan si penulis. Bahasa memiliki subjektivitas yang lebih besar ketimbang angka, yang mutlak, semisal 1+1=2. Artinya, bahasa bisa dengan mudah dipermainkan, bisa dengan mudah diputarbalikan (maknanya).

Dan membaca seword.com, saya melihat hal tersebut banyak dilakukan para penulisnya. You know, bermain kata, penggunaan majas, pemilihan diksi dan sebagainya. Not that the ones who write the articles are smart, merely they play the words. Mengatakan ini, saya tidak bermaksud menyepelekan. Sekali lagi, ini pendapat saya pribadi bukan berdasarkan kenyataan lapangan yang mungkin ternyata penulis-penulis  seword.com memiliki IQ yang tinggi. Who knows? I don’t.

Okay, let’s take a look at this article. Berjudul 212, HT Dibela, Apa Ada Aksi Bela DP Rp.0? Dimanakah letak ‘permainannya”? Permainannya  terletak dari niat si penulis saat membuat artikel dan saat dia memutuskan judul untuk artikel tersebut. Niat, subjektivitas. Subjektivitas tersebut kemudian ia tuangkan ke dalam kata, kata yang kemudian (fortunately and unfortunately) menimbulkan opini bagi si pembaca. Ini yang bahaya. Ketika seseorang berkesimpulan, berpendapat dan hanya berdasarkan asumsinya, namun disebarkan dengan niat untuk membangun pendapat yang sama di antara pembacanya. Dari kacamata mana pun, penilaian berdasarkan pendapat semata tidak akan pernah fair.

Lalu, bagian mana dari judul artikel tersebut yang dihasilkan dari subjektivitas? Mari breakdown. 212 mengacu pada aksi damai/gerakan yang dilakukan oleh masyarakat pada tanggal 2 bulan 12 tahun lalu. This means, ini fakta karena istilah tersebut benar adanya mengacu pada peristiwa yang benar-benar terjadi. HT Dibela, HT atau Hary Tanoesoedibjo dengan kasus SMS-nya kepada seorang Jaksa bernama Yulianto yang membuatnya menjadi seorang terasangka. Beberapa (or say, banyak but I don’t know exactly how many) orang mengatakan kasus tersebut merupakan kriminalisasi oleh penegak hukum. Sehingga, HT akhirnya dibela oleh orang-orang yang dahulu mengikuti aksi 212. So, ini juga fakta.

Selanjutnya, bagian Apa Ada Aksi Bela DP Rp.0 plus tanda tanya-nya. Bertanya, no fakta dan pendapat karena di dalam artikelnya tidak ada bukti-bukti yang menunjukan jika aksi pembelaan tersebut ditujukan untuk ‘membela DP Rp.0 (DP 0 adalah salah satu program Gubernur/Wakil Gubernur Terpilih). Artinya, frasa ini disimpulkan dari hasil asumsi dan pendapat pribadi si penulisnya. Subjektivitas.

Well, I see now question mark has become an excuse to just jump on conclusion without letting us people read/hear/listen/observe the truth a.k.a the fact that may be on the body of the article.

Kemudian, judul artikel kedua yang ingin saya lihat susunan katanya adalah SBY dan Prabowo Krisis Kepercayaan Diri Di Depan Jokowi. Well, artikel tersebut dibuka dengan kalimat ” Kami dikagetkan ujaran Prabowo, “Presidential threshold 20 persen, menurut kami, adalah lelucon politik yang menipu rakyat Indonesia.” Rakyat mana yang ditipu?”

Dalam si “kami” di sini tersirat makna jika hanya si “kami” (dia/si penulis) saja yang merupakan rakyat dan melupakan saya, misalnya, sebagai rakyat yang juga tidak setuju dengan dengan Presidential Threshold 20%.

In conclusion, you judge.

 

(Ps. Tulisan ini semata merupakan pendapat pribadi penulis)