Review Buku Pinball dan Hear The Wind Sings, Haruki Murakami

Pinball dan Hear The Wind Sings adalah judul dua novela dari Haruki Murakami. Kebetulan, saat beli keduanya jadi satu buku. Dan ini, menjadi karya Haruki Murakami yang saya baca pertama kali. Dan ternyata, ini bukanlah buku yang tepat memulai menjelajahi karya-karya Haruki. Butuh setidaknya dua kali periode membaca untuk menyelesaikan buku yang tebalnya tidak sampai 300 halaman ini. Serta, saya juga setidaknya membutuhkan hampir satu minggu untuk satu kali periode membaca. Kenapa?

Pertama, ceritanya ngalor ngidul. Butuh tingkat konsentrasi tinggi saat membaca buku ini. Saya umpamakan jalan ceritanya menuju ke D. Alih-alih langsung A B C lalu sampai tujuan, Haruki malah mengambil jalan E G F B C A dan seterusnya. Terkadang, saya juga lupa apa yang diceritakan tokoh ‘Saya’ di buku ini sebelumnya. Lantas, saya harus membalik ke beberapa halaman sebelumnya agar bisa klik dengan apa yang diceritakan saat ceritanya ‘sudah sampai’.

Kedua, dengan ceritanya yang ke sana – ke mari, membuat membaca buku ini sangat sangat membosankan. Buku ini pada dasarnya menceritakan tokoh utamanya yang mencari mesin pinball, dan sementara dalam pencarian kita – pembaca – dibawa terombang-ambing ke masa lalu si tokoh. Kita juga disuguhkan keseharian si tokoh, yang biasa saja. Namun memang, dengan kekuatan pemilihan diksi Haruki menjadikan kebiasaan-kebiasaan tokohnya menjadi menarik.

Haruki menggunakan sudut pandang orang pertama yang tak bernama dalam kedua novela ini (dan sepertinya di buku-bukunya yang lain juga). Si ‘anonim saya’ digambarkan sebagai seorang penerjemah dengan karakter yang sebenarnya biasa-biasa saja. Ia tiba-tiba diingatkan tentang mesin Pinball dan akhirnya terus menerus mencarinya. Yang paling absurd adalah, kehadiran dua gadis kembar yang tinggal bersamanya. Keduanya begitu saja datang, lalu tidur di kasurnya, makan makanannya, meminum kopinya. Begitu saja, sampai akhirnya ia terbiasa.

Ada kesedihan yang terasa mengambang, dirasakan ‘saya’ dalam buku ini. Selain karena kehilangan orang yang ia cinta karena bunuh diri, ada hal lain yang rasanya sulit digambarkan, yang membuat si tokoh terasa merana.

(3/5)

Ingin membaca review buku seperti ini? Klik Waiting, Ha Jin.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.