Review After You by Jojo Moyes: Belajar Merelakan Masa Lalu

Sumber: Dsdtz

Louisa Clark kehilangan arah, kehilangan tujuan dalam hidupnya. 18 bulan setelah kepergian Will Traynor, Lou seperti ikut kehilangan hidupnya sendiri. Sesuai wasiat Will, Lou sempat pergi ke Paris dimana dia seharusnya mengejar impian. Tetapi dia belum sepenuhnya mengikuti keinginan kekasihnya tersebut. “Just live well,” pesan Will. Namun, Lou sendiri menahan diri, menutup semua kemungkinannya menjadi diri sendiri, menjadi bahagia sesuai permintaan Will. 
Masih dirundung duka, begitu dalih Lou. Alih-alih mengejar impiannya, Lou pun terdampar di pub, tempatnya bekerja, berada di sebuah bandara, lalu lalang orang datang dan pergi menjadi pemandangannya sehari-hari. Namun, pekerjaannya sendiri membuatnya seperti tak punya masa depan yang pasti. 

Setiap malam usai bekerja, Lou menyendiri di atap apartemennya. Memandangi langit kota, merenungi nasibnya, dan bediskusi dengan Will dalam pikirannya tentang duka yang masih dia rasakan.
Suatu malam, seperti biasa. Sambil terisak, Lou memanjat ke atap. Tiba-tiba, suara teriakan menyergapnya. Lou kaget, kehilangan kendali tubuhnya. Terjatuh. Kejadian ini tanpa disadari ternyata menuntunnya ke kehidupan barunya, masa depannya, kebahagiaannya. 

Bumbu Feminisme dan Pertemuan dengan Lily

Tidak hanya karakter lama, munculnya karakter-karakter baru pun menambah menarik novel yang sudah terjual lebih dari 5 juta copy ini. Karakte-karakter baru ini membuat kehidupan Lou semakin rumit, bahagia bahkan penuh dengan drama. ‘Ambulance’ Sam membawa warna baru, kebahagiaan, cinta bahkan kesempatan kedua. Lily dengan kehidupan remajanya, dijauhi orangtuanya sendiri hingga teman-temannya. Dan Ibu Lou, yang seolah hidup kembali dengan ‘penemuan’ feminisme-nya. 
Untuk saya, alur ceritanya sangat menyentuh. Meskipun di awal-awal cerita, diksi dan dekripsi panjang khas Jojo Moyes sedikit membuat saya agak bosan, namun terbantu dengan plot-nya, membuat saya tidak ingin berhenti membaca. Rasa bahagia, berbunga-bunga, sedih hingga ingin menangis saya rasakan saat membaca buku ini. Terlebih saat bercerita tentang kehidupan Lily, si remaja terlantar yang menemukan kembali keluarganya. 
Jadi, menurut saya. Buku ini tidak sekadar tentang romansa. Bukan sekadar cinta antara sepasang anak manusia. Buku ini tentang pemahaman cinta yang lebih luas. Keluarga, teman, saudara, hingga orang-orang sekitar kita. Buku ini tentang keberanian. Berani mengambil langkah, berani bermimpi dan mengejarnya, berani untuk bahagia.
Saya sendiri menjuluki buku ini sebagai “the Bible of Moving-On”. Bagi Anda yang sulit melupakan mantan, atau Anda terperangkap rasa sedih kehilangan orang terkasih. Saya rekomendasikan buku ini untuk Anda baca. Terima kasih.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer