Review Aristotle and Dante Discover The Secrets of The Universe

Benar adanya jika orang bilang masa remaja adalah masa yang rentan. Kita dihadapkan dengan berbagai kondisi yang belum kita pahami. Ada berbagai hal yang belum banyak kita mengerti. Bahkan, di masa ini kita belum mengenal diri kita sendiri. Di masa ini, kita terus mencari. Bahkan mencari jawaban dari pertanyaan yang tidak ketahui. Bingung, galau, kurang percaya diri seringkali kondisi yang kita hadapi di masa-masa ini.

Di masa ini, kita dihadapkan dengan berbagai jalan, sementara masih hanya sedikit clue yang kita dapat. Kita masih bimbang dalam menentukan jalan mana yang harus kita ambil, dan jalan mana yang harus kita hindari. Peran lingkungan dan orang-orang terdekat menjadi faktor terpenting bagi kita dalam menentukan jalan mana yang harus kita lalui. Salah benar menjadi resiko, menjadi media bagi kita sekaligus mereka, orang-orang terdekat kita untuk terus belajar. Berkat dukungan mereka pula lah, kita juga akan bisa tetap berdiri di jalan yang kita lalui, meski medan yang berat dan penuh liku dan rintangan.

Novel ini bercerita tentang kehidupan remaja seorang Ari (Aristotle) dan Dante. Mereka berdua berjuang menemukan siapa diri mereka sebenarnya. Dari soal memantaskan diri secara biologis. Ari dan Dante, keduanya memiliki darah Meksiko namun selalu merasa jika mereka tidak begitu Meksiko, sebaliknya mereka merasa terlalu Amerika. Gaya hidup, pendidikan hingga gaya berbicara jadi bahan pertimbangan terhadap klasifikasi yang mereka berikan pada diri sendiri. Sampai akhirnya, berbagai jalan yang sudah dilalui memberi keduanya clue siapa mereka sebenarnya. Dan dukungan dari orang-orang terdekat semakin membantu mereka menghadapi diri mereka yang sesungguhnya.

Kekhawatiran menjadi hal yang selalu dirasakan Ari dan Dante. Kekhawatiran terhadap hal-hal baru, kekhawatiran terhadap apa yang akan mereka hadapi di masa mendatang. Tetapi, itu hanya kekhawatiran.

“That surprised me. It was interesting, not stupid or silly or sappy or overly intellectual – not any of those things that I thought poetry was.”

Kutipan di atas adalah salah satu baris yang menggambarkan bagaimana Ari dealing with new thing. Kekhawatiran yang dia rasakan ternyata hanya ada dalam pikirannya, bukan sesuatu yang sebenarnya dia alami. Selain itu, Ari juga selalu menaruh curiga terhadap berbagai hal. Dari hal-hal sepele hingga kondisi orangtuanya.

“Dante and I were cursed with parents who cared.”

Bahkan kepada gurunya di kelas, Ari pun menaruh rasa curiganya. Berprasangka terhadap segala hal yang dikerjakan gurunya.

“He wanted to get to know us. Of course, he did. New teachers. They tried too hard. It embarrased me.”

Sementara itu, Dante adalah cowok yang terkadang bisa menjadi sangat lembut dan melankolis. Ia bisa tiba-tiba terharu terhadap sekitarnya, atau menangis gara-gara seekor burung. Seekor burung yang dijadikan mainan oleh anak-anak remaja lain. Hingga burung tersebut menjemput ajal, dan Dante menangis sejadi-jadinya. Ia pun menguburkan burung tersebut. Bahkan lukisan, bagi Dante beberapa lukisan bisa membawa kesedihan untuknya.

“I am in love with that painting. Sometimes, I think everyone is like the people in that painting, everyone lost in their own provate universes of pain or sorrow or guilt, everyone remote and unknowable. The painting reminds me of you. It breaks my heart.”

Alur ceritanya sederhana. Kehidupan remaja dan berbagai hal yang terjadi, kenakalan, pertemanan, cinta dan lain sebagainya. But, thumbs up for Benjamin Alire Saenz for bringin such a story so alive. Dengan tema yang biasa saja, Saenz bisa membidik angle yang begitu menarik. Disuguhkan diksi yang cukup umum namun bisa mentrigger rasa penasaran sekaligus suka yang dalam terhadap jalan ceritanya. I loveeeee this book! It’s well written, well-told, and well- composed.

(4,6/5)

 

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer