Budaya ada karena manusia. Manusia ada karena budaya. Seketika saat menonton film garapan sutradara Ryan Coogler ini, saya berpikir tentang dua kalimat ini.  Apa tidak terlalu utopian alur cerita dari Black Panther ini? Bayangkan saja, ada negara di mana bangsanya maju secara teknologi juga mampu menjaga tradisi dan kebudayaan. Adakah negara di dunia nyata ini yang demikian?

Saya berharap ada, tetapi kenyataannya… Pun dengan negara kita tercinta, budaya yang katanya kita banggakan, perlahan memudar dimakan ‘kemajuan’. Globalisasi hingga digitalisasi masuk, langsung menggeruduk tradisi, membuatnya tidak lagi berarti dan mulai ditinggalkan. Lalu apa yang tersisa?

Black Panther yang didominasi bintang-bintang berkulit hitam juga memberi warna baru dalam kancah perfilman Hollywood. Dimana selama ini masih terjadi diskriminasi terhadap ras kulit hitam tetapi di film ini, mereka diberikan ruang untuk berekspresi. Terlebih dengan menampilkan kayanya budaya yang mereka miliki, tradisi dan keyakinan yang mereka anut dan amini. Untuk ini, thumbs up untuk Marvel. Sangat berani dan dari sisi sinematografi juga sangat luar biasa.

Secara visual, film ini sangat luar biasa memanjakan mata. Namun dari segi cerita, sebenarnya saya kurang suka. Ceritanya menurut saya terlalu memaksa. Akting sang tokoh utama Chadwick Boseman juga biasa-biasa saja. Bahkan menurut saya, aktingnya terkesan terlalu dipaksakan (he tried so hard and that it is so obvious) sehingga saat menyaksikan adegan-adegannya kurang mengena. Tapi sekali lagi, visual effect-nya superb sekali.

(7,5/10)

Sinopsis

T’Challa, raja baru Wakanda berada dalam dilema. Ia galau bagaimana menjadi seorang raja yang baik dan bijaksana atau mencari cara menghapus dosa lama sang ayah. Di tengah-tengah kegalauannya, seorang pendatang justru menantang T’Challa dan menginginkan tahta.

Want to read more like this? Go check out Justice League.

2 thoughts on “Black Panther”

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.