Review Buku Britt-Marie Was Here

Akhirnya bisa menyelesaikan membaca buku keenam di 2019 yang berjudul “Britt-Marie was here”. Buku setebal 352 halaman ini menceritakan seorang perempuan di usia senja bernama Britt-Marie. Dia seorang yang cerewet, canggung dalam bersosialisasi, dan bisa dibilang, juga pasif-agresif. Britt-Marie juga memiliki kecenderungan untuk selalu menata atau membersihkan semua yang tidak terlihat rapi atau yang terlihat kotor.

Di usianya yang sudah memasuki kepala enam, Britt-Marie dihadapkan pada kenyataan pahit, bahwa suami yang selama 40 tahun hidup dengannya kini telah menemukan orang lain. Bukan tidak menyadari hal tersebut akan terjadi, namun selama ini Britt-Marie merasa perlu berpura-pura bahwa rumah tangganya baik-baik saja. Kini, saat suaminya Kent benar-benar sudah bersama wanita lain, dia harus pergi dan memulai hidupnya sendiri.

Tidak mudah di usianya yang sudah 63 tahun untuk menemukan pekerjaan. Apalagi dia hanya memiliki pengalaman sebagai pelayan­­­­ saat masih muda dulu. Namun, setelah menikah dengan Kent, dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, merawat rumah dan mengurus suaminya. Beruntung, ada lowongan kerja tersedia sebagai caretaker untuk Reacreation Center di sebuah kota bernama Borg, kota sekarat di mana sector ekonomi benar-benar mengalami kebangkrutan. Pusat perbelanjaan tutup, rumah-rumah dijual, orang-orang pindah ke kota lain, dan jalanan yang sepi dari lalu Lalang kendaraan.

Tanpa pikir panjang, Britt-Marie menerima pekerjaan tersebut. Dengan demikian, dia juga terpaksa pindah dan harus memulai hidup barunya di kota mati tersebut. Namun, di tengah kehidupannya yang tidak pasti tersebut, dia justru dipertemukan dengan teman-teman baru Bank dan Somebody. Dia juga diminta menjadi pelatih sepakbola. Dia yang kurang mahir bersosialisasi, ternyata bisa dekat dengan anak-anak yang bermain di tim sepakbola yang dilatihnya, yakni Sami, Vega, Omar, dkk. Dan dia juga bertemu Sven, polisi yang tertarik kepadanya.

Pertama kali kenal Britt-Marie adalah saat membaca karyanya Fredrik Backman yang berjudul “My Grandmother Sends Her Regards and Apologises”. Di situ Britt-Marie digambarkan sebagai seorang yang menyebalkan, tidak punya empati dan menyebalkan. Di “Britt-Marie Was Here” pun ternyata tidak jauh berbeda, namun dengan tambahan sisi lain Britt-Marie yang ternyata memiliki kepedulian besar terhadap orang lain, juga memiliki mimpi-mimpi lain yang selama ini dia simpan sendiri.

Ini menjadi buku kedua Backman yang saya baca. Dan ternyata, penulis asal Swedia ini selalu punya cerita-cerita yang luar biasa dan tak biasa. Selalu punya sudut pandang berbeda yang menjadikan cerita-ceritanya unik dan otentik. Di “Britt-Marie Was Here”, Backman menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan cara bercerita yang menyisipkan ironi-ironi yang membuat ceritanya terkadang menggelikan, lucu, sedih, namun juga menyenangkan.

Buku yang layak untuk dibaca, meskipun ringan namun penuh dengan makna. Dan satu hal, dari buku ini saya belajar bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai yang kita suka, memulai bermimpi dan mewujudkannya.

(4,4/5)

Ingin membaca review buku lain yang seperti ini? Klik The Good Luck of Right Now.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.