Review Buku Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer

Asiknya membaca buku-buku sejarah, bahkan yang karangan sekalipun. Kita dibawa kembali ke masa lalu, dan menelusuri jejak-jejak kisah para pendahulu, dengan cerita, budaya, dan kearifan yang mungkin sudah sulit kita temui di masa kini. Dengan demikian, kita juga diajak belajar, belajar mengamati, memahami, menganalisa untuk selanjutnya mendorong kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu buku, tepatnya roman sejarah yang punya kemampuan itu. Ia membawa saya bernostalgia, ke zaman para leluhur ratusan tahun lalu, di zaman kolonial di mana Indonesia masih bernama Hindia, dan masyarakatnya masih dijajah Belanda.

Tak hanya itu saja. Bumi Manusia ini kaya. Isu yang dibahas tak melulu tentang romansa percintaan muda-mudi. Di zaman itu, yakni di akhir abad 19, peran perempuan serba dibatasi. Tentu, belum ada yang namanya emansipasi.  Perempuan di masa itu masih terkungkung dan selalu hidup di bawah bayang-bayang laki-laki.

Di bawah bayang-bayang kolonialisme pula, pribumi dianggap berkedudukan rendah dibanding Indo atau Eropa murni. Diskriminasi terjadi di segala lini kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial hingga urusan rumah tangga.

Bahkan, yang paling menyedihkan adalah mindset orang-orangnya. Masyarakat lokal masih begitu tunduk pada kompeni dan tak berani berekspresi. Pun dengan orang-orang Eropa sendiri yang mengaku sudah maju, namun pada prakteknya justru tak bisa membuka diri dan menerima kritik maupun perbedaan pendapat.

Tentang Tokoh-Tokohnya

Nyai Ontosoroh, adalah satu yang hadir menjadi tokoh yang berusaha mendobrak segala macam ‘kekangan’ itu. Kehadirannya seperti oasis di tengah gersang kehidupan penjajahan sekaligus pemikiran sempit masyarakat. Ia, seorang gundik alias wanita simpanan seorang Belanda bernama Herman Mellema, tetapi mampu menjadi lebih dari hanya itu. Pemikirannya jauh dibanding masanya, tutur kata dan perbuatannya menjadi cerminan seorang wanita maju.

Berbeda dengan Minke, pemuda Pribumi, yang memang memiliki privilege untuk masuk menjadi murid di sekolahan Eropa, HBS. Ia bisa bertindak dan berpikir seperti Eropa karena didikan di sekolahnya. Tetapi Nyai Ontosoroh? Ia berbeda. Ia belajar otodidak memahami segala yang berbau Eropa, mulai dari bahasa, gerak-gerik, budaya hingga cara berpikir. Dan hebatnya, ia berhasil menjadi menguasai itu semua. Bahkan, mengutip Tuan Mellema sendiri:

Tak mungkin kau seperti wanita Belanda. Juga tidak perlu. Kau cukup seperti yang sekarang. Biar begitu kau lebih cerdas dan lebih baik daripada mereka semua. Semua!

Bumi Manusia, halaman 136

Sementara bertolak belakang dengan Nyai Ontosoroh, putrinya, Annelis Mellema justru seperti gadis yang tak memiliki pendirian. Emosinya labil dan cenderung manja. Paling tidak itu yang saya tangkap dari penggambaran Toer tentangnya. Annelis, di luar kecantikannya yang digambarkan sedemikian memesona, seperti tak memiliki daya lain untuk menarik orang agar menyukainya.

Selain dua wanita itu, Ibunda Minke juga hadir sebagai gambaran perempuan Pribumi pada umumnya kala itu. Ia adalah seorang perempuan Jawa tulen. Meski kolot, namun ia berusaha mengerti perbedaan pemikiran anaknya.  Dan, karakter keibuannya begitu kuat, sehingga terkadang menyentuh sekali saat momen-momen Minke dengan Bundanya itu.

Sinopsis

Tak semua Pribumi bisa bersekolah di HBS. Minke, adalah salah satu yang beruntung. Ia belajar segala yang berbau Eropa di sekolah itu. Pada suatu hari, ia mendapat undangan dari kawannya, Robert Suurhof, untuk mengunjungi Robert Mellema, kawannya juga, di Wonokromo.

Di rumah dengan julukan Boerderij Buitenzorg itulah Minke pertama kali bertemu dengan Nyai Ontosoroh dan Annelis Mellema. Di situ, menjadi titik permulaan segala kisah ini dimulai.

Apalagi setelah Annelis dan Minke saling jatuh cinta. Ke-Indo-an Ann dan kepribumian Minke seperti menjadi salah satu tantangan cinta mereka. Namun ternyata bukan itu, hal-hal yang jauh lebih besar menunggu keduanya.

Kutipan Favorit:

Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua.

Bumi Manusia, halaman 310

5/5 ★

Ingin membaca review buku lainnya? Klik [Review Buku] Pulang, Leila S. Chudori.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.