Review Buku Goodbye Tsugumi, Banana Yoshimoto

Melalui Goodbye Tsugumi, Banana Yoshimoto mengajak kita menikmati musim panas di Jepang. Meski tak selalu menyenangkan, tetapi pengalaman ini menjadi sangat berharga sekaligus menjadi pembelajaran para tokoh di dalamnya.

Goodbye Tsugumi hanya setebal 186 halaman, ditulis dengan sangat baik, dengan bahasa dan alur cerita yang sederhana — namun setiap kata dan urutannya seperti sudah seharusnya.

Bercerita tentang tiga orang gadis muda, kakak beradik dan sepupu mereka melalui lika-liku hubungan keluarga, di mana Tsugumi sebagai pusatnya. Tsugumi, seorang yang lemah fisik, sakit, dan diperlakukan istimewa oleh keluarganya. Sebaliknya, ia memperlakukan kakaknya Yoko, sepupunya Maria hingga kedua orangtuanya dengan semena-mena, kasar dan seenaknya.

Cerita semakin menarik karena dikisahkan dari sudut pandang orang pertama seorang Maria. Ia yang tinggal di lingkungan penginapan keluarga Yamamoto milik keluarga Tsugumi, tahu betul bagaimana keluarga itu mencoba berdamai dengan segala tingkah laku Tsugumi – yang seringkali tak mengenakan juga membuat sakit hati.

Namun fokus cerita bukan di situ, melainkan tentang perspektif Maria akan Tsugumi, bagaimana ia bisa memahami sepupunya itu lebih dari orang lain di sekitar keduanya, bahkan maksud-maksud terselubung di balik tingkah maupun ucapan Tsugumi. Di sini, kita akan dibawa merasakan pengertian, pemakluman juga kehangatan yang menjalar tanpa harus diutarakan.

Buku ini buat saya sangat pas, kesederhanaan cerita dan narasinya entah bagaimana bisa menenangkan. Apalagi kegiatan hingga hal-hal biasa di dalamnya digambarkan dengan sangat nyata dan hidup. Pantai, hujan musim panas, menikmati api unggun, menjadi momen-momen yang menyenangkan dan membuat saya sebagai pembaca hanyut di dalamnya. Serasa sedang memandang pantai atau mendengar gemericik hujan musim panas, seperti gambaran yang berikan Yoshimoto dalam buku ini.

Cukup terus membacanya, menikmati setiap kata-kata, tanpa ada perasaan ingin menebak arah alurnya adalah cara saya masuk ke dalam ceritanya.

Kutipan favorit:

“Each one of us continues to carry the heart of each self we’ve ever been, at every stage along the way, and a chaos of everything good and rotten. And we have to carry this weight all alone, through each day that we live. We try to be as nice as we can to the people we love, but we alone support the weight of ourselves.”

Ingin membaca review buku lainnya dari Banana Yoshimoto? Klik [Review Buku] Kitchen, Banana Yoshimoto.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.