Review Ham on Rye, Charles Bukowski

For all the fathers, begitu Charles Bukowski menulis di halaman pembuka Ham on Rye. Setelah selesai membaca bukunya, barulah memang saya tahu untuk apa kata-kata itu.

Hidup keras di era Great Depression memang terasa menyesakkan. Ekonomi sulit, orang tua tak memiliki pekerjaan, kejahatan di mana-mana, orang-orang memutuskan kelaparan dan bunuh diri, dan anak-anak terlantar tak dipedulikan orang tuanya.

Henry Chinaski pun tak jauh berbeda, hidup di tengah keluarga tak punya, dengan ayah pembully fisik maupun mental, dan ibu yang tak punya daya upaya. Namun lebih dari itu, dalam buku ini Bukowski, melalui Chinaski – alter ego-nya, mengajak kita lebih dalam menyusuri masa kecilnya hingga ia remaja, masa-masa penuh kekerasan, kesendirian, dan berbagai hal lain yang di tahun-tahun kemudian membentuknya menjadi seorang penulis kenamaan Amerika.

Ham on Rye, dengan tema yang cukup mendalam, disampaikan dengan narasi yang cenderung ringan. Ini menjadikan buku ini bak ironi, di tengah perjuangan dan kesengsaraan, Bukowski justru menjadikan hal tersebut seolah sebagai olok-olok bagi dirinya sendiri.

Alih-alih penuh kepedihan yang tesirat maupun tersurat, narasi dalam buku setebal 288 halaman ini juga ditulis dengan sangat indah. Indah dengan gaya penulisan a la Bukowski yang puitis dan effortless. Ini menjadikan bahkan bahkan kegiatan sehari-harinya yang membosankan menjadi mengesankan.

Bukowski, sebagai seorang penulis, memang punya daya luar biasa dalam merangkai kata. Ia menjadikan setiap penggambaran punya impresi lebih untuk menarik pembaca masuk ke dalam ceritanya. Saya pun merasa demikian. Bahkan bagi saya, hanya seorang Bukowski saja yang mampu menulis satu kata yang sama berulang-ulang dalam satu kalimat atau paragraf tanpa membuatnya membosankan.

Selain itu, dalam Ham on Rye, seperti dalam tulisan-tulisannya yang lain, ditorehkan dengan penuh kejujuran, apa adanya, kasar, dan keras.  Ia menelanjangi dirinya sendiri, mempertontonkan kelemahan sekaligus kekuatannya sebagai manusia bernama Charles Bukoswki.

Sinopsis

Henry Chinaski adalah anak tunggal dari ayah ibunya. Meski hidup di tengah kemiskinan, ayah ibu memiliki gengsi yang luar biasa dan tak mau mengakui kelemahan mereka. Chinaski sebagai orang anak pun menurut saja. Ia tak memiki teman dan seringkali hanya menjadi bahan bully-an. Pun saat di rumah, ia menjadi bulan-bulanan ayahnya. Ia mendapatkan pukulan dan kekerasan fisik dari ayahnya, setidaknya sekali di akhir pekan dan sekali lagi saat hari-hari biasa. Bagaimana Chinaski bertahan dan bagaimana harapannya di masa yang akan datang?

5/5 ★

Ingin membaca review buku Charles Bukowski yang lain? Klik [Review Buku] Women, Charles Bukowski.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.