Hippie oleh Paulo Coelho

Pencarian jati diri, arti hidup, cinta hingga pencarian Sang Maha Kuasa, kurang lebih yang menjadi tema dari buku berjudul Hippie karya Paulo Coelho. Setebal kurang lebih 285 halaman, buku ini sangat luar biasa menurut saya, baik dari segi penulisan maupun cerita. Terlebih, kejadian-kejadian yang diceritakan dalam buku ini berdasarkan pengalaman penulisnya sendiri, jadi makin menambah daya tarik Hippie.

Meskipun kisahnya didasarkan pada pengalaman pribadi penulis, karakter utama dalam buku ini diceritakan dalam sudut pandang orang ketiga. Alasannya, menurut Paulo, adalah agar dia bisa memberi sisi yang unik bagi karakternya. Dan benar saja, tokoh Paulo dalam buku seperti berdiri sendiri dan terasa ‘bebas’ dan tidak dibatasi oleh keakuan si penulis.

Hippie, menceritakan orang-orang yang menyukai petualangan, percaya akan kedamaian, dan free love serta seringkali berpakaian agak nyeleneh. Orang-orang bebas, begitu mereka menyebut dirinya. Paulo, adalah salah satu di antaranya. Seorang pemuda 23 tahun asal Brasil, berusaha mencari pencerahan dan jati dirinya dengan mengunjungi negara-negara Eropa hingga menuntunnya ke Asia.

Salah satu yang tidak bisa dilepaskan dari seorang hippie adalah, kecanduannya akan obat-obatan terlarang terutama ganja, jamur (tertentu), LSD dan lain sebagainya. Mereka menggunakan obat-obatan ini sebagai media untuk lebih mengerti dan memahami dunia, sehingga mereka bisa lebih bersyukur dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Terlepas dari itu, saya sendiri memiliki ketertarikan akan kehidupan seorang hippie. Sehingga melalui buku ini, saya paling tidak bisa melihat dan memahami apa yang sebenarnya seorang hippie lakukan dan percaya. Sangat menarik dan highly recommended untuk dibaca, apalagi buat kamu yang sedang dalam proses ‘pencarian’.

(4,8/5)

Sinopsis Hippie

Paulo, bertubuh kurus, kusut dan dekil. Paulo berkeliling dunia untuk mencari jati diri dan berharap menemukan pencerahan. Dia menaiki “Death Trainn to Bolivia”, lalu ke Chili dan Argentina untuk selanjutnya ke Amsterdam. Di Dam Square, dia bertemu seorang wanita bernama Karla, yang sudah menunggu calon teman berkelananya untuk ke Nepal dengan Magic Bus.

Ingin membaca review buku lain yang seperti ini? Klik The Good Luck of Right Now.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.