[Review Buku] Hujan Bulan Juni – Novel

Hujan Bulan Juni jadi judul yang menurut saya syahdu banget, romantis dan nggak terlalu pretensious. Saya pun sudah lama ingin membaca karya-karya Sapardi Djoko Damono (SDD) tapi sayangnya baru kesampaian sekarang-sekarang ini.

Jadi, novel Hujan Bulan Juni ini sebenarnya tipis banget. Nggak lebih dari 200 halaman. Tapi, karena gaya penulisan SDD – kalimat-kalimat nun panjang tanpa jeda, koma ataupun titik – sehingga membuat membaca buku ini membutuhkan waktu untuk mencerna dan butuh waktu juga buat bergulat dengan kejenuhan yang ditimbulkannya. Hehe.. no offense :))

Dan, sejujurnya buku ini tidak membuat saya tertarik. Terlebih, setelah secara keseluruhan membacanya, saya menjadi sedikit kecewa. Apalagi dengan nama besar SDD, saya pikir buku ini akan begitu menggugah dan memberi nuansa baru pada dunia perbukuan saya.

Dari segi cerita, Hujan Bulan Juni berkutat di kisah hubungan Sarwono dan Pingkan. Si Jawa tulen dan si Manado yang mengaku diri sebagai Jawa. Keduanya sama-sama jatuh cinta satu sama lain, alih-alih suku, agama hingga cara berpikir yang berbeda. Dan, bisa ditebak sendiri bagaimana kelanjutannya.

Ya, menurut saya se-membosankan itulah Hujan Bulan Juni ini. Terlepas dari semua yang sudah saya ungkapkan di atas, ternyata saya masih penasaran dengan kelanjutan cerita Sarwono dan Pingkan, masih berharap dengan nama besar sang penulisnya, masih berharap kelanjutan ceritanya akan lebih menarik. Walaupun, saya tidak berniat membacanya dalam waktu dekat.

Dua sekuelnya, Pingkan Melipat Jarak dan Yang Fana adalah Waktu sudah masuk dalam wishlist saya. Termasuk buku-buku SDD yang lain, saya masih sangat tertarik untuk membacanya di lain waktu. Yep, saya rupanya masih kesengsem dengan nama besar si penulis.

Di halaman akhir Hujan Bulan Juni, disisipkan puisi;

/iii/
kita tak akan pernah bertemu:
aku dalam dirimu

tiadakah pilihan kecuali di situ?

kau terpencil dalam diriku

2.5/5

Want to read more like this? Please go check out Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer