hunger by roxane gay review

Hunger by Roxane Gay, buku keempat yang saya baca sesudah Little Fires Everywhere by Celeste Ng. Ini salah satu buku non-fiksi yang saya dapat di The Big Bad Wolf Jakarta 2019, dan salah satu juga saya nanti banget untuk membacanya.

Sebelumnya saya emang udah penasaran banget sama karyanya Roxane Gay yang berjudul Bad Feminist, udah masuk wishlist dan belum sempat kebeli. Pas nemu Hunger di tumpukan buku di BBW 2019, saya se-excited seakan nemu Bad Feminist. Maka, jadilah buku ini saya bawa pulang.

Hunger terdiri dari 280 halaman, diterbitkan oleh Harper Collins. Kata Ms. Say, buku yang pertama kali rilis tahun 2017 ini merupakan ‘a memoir of my body’. Jadi, dari judulnya saja sebenarnya sudah sedikit banyak merangkum keseluruhan isi buku ini yakni menceritakan ‘perjalanan’ tentang tubuh, atau lebih spesifik lagi tentang perubahan bentuk tubuh dari si penulis termasuk penyebab dan akibat yang menyertainya.

Di halaman-halaman awal hunger, Ms. Gay menceritakan pengalaman masa remajanya yang menjadi akar penyebab ia memutuskan memperbesar ukuran badannya. Agak susah menjelaskannya, tapi Ms. Gay ini memang benar-benar keukeuh ingin badannya menjadi besar (gemuk).

Hal tersebut berawal saat ia berusia 12 tahun, Ms. Gay dipaksa melayani pacar dan teman-teman gangnya di sebuah cabin di hutan. Perlu digaris bawahi, dia DIPAKSA. Dengan usianya yang masih belia, ia bingung harus berbuat apa atas perlakuan orang yang ia anggap menyayanginya tersebut. Ia pun galau antara harus memberitahu orangtuanya atau menyimpan rahasia tersebut rapat-rapat.

Akhirnya, ia memutuskan tidak menceritakannya kepada orangtuanya. Namun, setelah sebelumnya ia percaya jika pacarnya dan teman se-gangnya juga akan menutup rapat kejadian tersebut, ia salah. Teman-temannya di sekolah mendengar hal tersebut, dan bullying pun dimulai. Ms. Gay remaja memiliki sebutan pelacur, wanitan murahan dan lain sebagainya. Ia sendiri punya julukan untuk dirinya, ‘the girl in the wood’ sebagai gambaran kejadian buruk yang ia alami.

Dan hal yang paling buruk adalah, ia merasa semua kejadian yang menimpanya tersebut adalah salahnya. Ia merasa berdosa, penuh noda dan seakan membuatnya tidak bisa menjadi dirinya sendiri yakni seorang gadis lugu yang menjadi kebanggaan orangtuanya. Di depan orang-orang terdekatnya, ia bersikap seolah tidak pernah terjadi apapun dan selalu menjadi gadis penurut dan pintar namun di dalam hatinya ia merasa jika ia tak lagi seorang gadis lugu kebanggaan ayah dan ibunya.

Tahun berlalu dan ia beranjak dewasa, ia mencari ‘tempat berlindung’ dari perasaan bersalah dan perasaan cacat yang ia rasakan. hingga akhirnya perjalanan menuntunnya ke makanan, yang kemudian ia sadari sebagai tempat pelarian ternyaman. Dengan anggapan jika ia tak perlu jadi siapapun, tak perlu berakting baik atau jadi seperti yang dipikirkan orang terhadapnya, ia hanya perlu jadi dirinya sendiri untuk bisa menikmati sepiring spagetti atau makanan lainnya. Dengan ‘penemuan’ ini, ia terus menerus kembali ke ‘tempat’ tersebut untuk bersembunyi dan menjadi dirinya sendiri. Ia terus menerus makan dan membuat tubuhnya membesar bahkan sampai tahap ia mengalami obesitas.

Dengan makan terus menerus, ia merasa seperti sedang membangun benteng pertahanan. Ia merasa dengan begitu para pria tidak akan tertarik kepadanya, sehingga ia pun terhindar dari hal buruk yang pernah menimpanya.

Membaca Hunger bagi saya membuka perspektif baru. Ada beberapa hal juga yang baru saya pahami setelah membaca buku ini. Salah satunya adalah, kenapa seseorang ‘memutuskan’ untuk menjadi besar (secara harfiah). Dan, penyebabnya ternyata bahkan tak sesederhana yang kita kira.

Selain itu, dari Hunger juga saya bisa tahu bagaimana perspektif orang yang berbadan besar terhadap sekitarnya. Ini bisa membuat kita lebih aware terhadap apa saja yang bisa kita lakukan untuk membantunya, atau paling tidak, untuk tidak ikut menyulitkannya. You know, salah satu yang sering terjadi adalah terkadang kita suka ngelihatin terus orang-orang yang punya badan gemuk mungkin saat mereka berdiri di depan kita atau duduk di samping kita. Hal ini sebaiknya tidak lagi tidak lagi kita lakukan. Karena pada dasarnya mereka sudah sangat aware terhadap kondisi badan mereka termasuk juga pikiran orang-orang sekitarnya. Dan, masih banyak lagi hal yang kadang kita nggak sadarin tapi kita lakukan dan itu menyinggung mereka.

Gaya penulisan Ms. Gay di buku ini juga mudah dipahami, dan diksi yang nggak muluk-muluk. Namun, di beberapa bagian tulisannya kadang terlalu flat dan bikin agak bosan membacanya.

Rating: 3,5/5

Favorite quote:


“In my novel, An Untamed State, after Miri, my protagonist, has been through hell, she thinks about how sometimes broken things need to be broken further before they can truly heal.”

Hunger, halaman 258

Want to read more like this? Go check out  The Diary of A Young Girl Review.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.