review buku killing commendatore, haruki murakami

Hampir 700 halaman dan selesai hanya dalam 2,5 malam, sebegitu terhanyutnya aku membaca Killing Commendatore, karya terbaru The One and Only Haruki Murakami. Setiap lembar halamannya tak ingin kulewatkan, setiap halamannya seperti menyimpan hint-hint dari misteri yang menunggu di ujung cerita.

Killing Commendatore bercerita tentang seorang pelukis portrait berusia 36 tahun yang tinggal dan hidup seorang diri di sebuah rumah di gunung. Sebelum akhirnya memutuskan menyendiri, istrinya meminta untuk berpisah dengan alasan telah menemukan dambaan hati yang lain. Ia patah hati. Dan, patah hati membawanya berkelana hingga suatu hari hatinya berkata ia ingin kembali ke kotanya. Tawaran seorang teman untuk menempati bekas rumah ayahnya yang berada di pegunungan, terpencil dan jauh dari keramaian, pun diterima. Di rumah ini, hidupnya mulai berubah.

Misteri demi misteri datang mulai dari suara lonceng yang berbunyi di tengah malam, pertemuannya dengan Menshiki si pria kaya raya yang tinggal sendiri di sebuah mansion di seberang rumah si pelukis. Dan, berbagai hal-hal misterius ini dimulai ketika lukisan berjudul ‘Killing Commendatore’ ditemukan olehnya.

Membaca Killing Commendatore memberikan sensasi yang sangat beragam. Mulai dari horor, yang menurutku cukup intens dan bikin bulu kuduk merinding, lalu drama, kesepian, kesedihan serta penasaran. Lewat Killing Commendatore, Haruki Murakami membawa hal-hal klenik ke level yang berbeda. Ia menempatkan hal-hal tersebut di ranah yang cukup krusial dalam kehidupan tokoh-tokoh dalam buku ini.

Selain itu, buku ini juga membuatku terpana akan bagaimana proses kreatif melukis digambarkan sebegitu detail, mulai dari pembuatan draf/sketsa, pemilihan warna-warna, hingga goresan-goresan yang akhirnya ditorehkan.

5/5

Ingin membaca review dari buku seperti ini? Klik Pinball & Hear The Wind Sings, Haruki Murakami.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.