Review Buku Laut Bercerita

Betapa mengerikan hidup di era Orde Baru dan memiliki pemikiran ‘berbeda’. Bisa-bisa kita dibredel, seperti media massa yang menyuarakan perbedaan pada masa itu. Atau, jangan-jangan bisa lebih dari itu. Kita diculik, ditahan, lalu dihilangkan entah dengan cara apa seperti para aktivis yang menyerukan reformasi kala itu. Ngeri.

Inilah kira-kira yang menjadi tema Laut Bercerita. Leila S. Chudori membawa kita menyusuri masa Orba, merasakan bagaimana rezim Soeharto memerintah, menyelami pikiran mereka yang berusaha mendobrak, dan ikut mengenang mereka yang dihilangkan.

Laut Bercerita tak hanya sekadar kisah fiktif yang ‘menjual’ rangkaian kata demi kata yang indah, lebih dari itu buku ini membuka tabir sejarah bangsa kita yang entah bagaimana dibikin tidak seharusnya.

Saya mendapatkan banyak insight yang cukup mendalam dengan membaca Laut Bercerita. Kekejian dan kengerian dari siksaan kepada para aktivis yang tertangkap terasa nyata. Sampai ada saat-saat di mana saya tidak kuat membacanya, tidak tega dan jeri akan kekerasan yang digambarkan. Teramat menganggu. Saya tak sanggup membayangkannya. Pun termasuk kesedihan dan rasa kehilangan yang berlarut-larut karena ketidakpastian yang dirasakan para anggota keluarga (dari mereka yang dihilangkan).

Ayahnya Biru Laut terutama. Bikin saya nangis karena rasa-rasanya saya bisa ikut merasakan nelangsa yang ia rasakan. Anak lanang satu-satunya hilang, dan yang paling buruk, ia tak tahu apa yang terjadi pada Laut. Ia tak tahu anak sulungnya itu ada di mana, sedang diapakan dan bagaimana keadaannya. Bertahun-tahun, ia harus menanggung derita kehilangan tanpa kepastian akan menemukan.  

Membaca Laut Bercerita membuka mata saya. Saya diajak melihat bagaimana perjuangan para aktivis yang mencoba melawan rezim penguasa. Mereka tak hanya mengorbankan kenyamanan hidup, tapi juga keluarga hingga nyawa yang menjadi taruhan.

Dari buku ini, kita juga bisa tahu. Bagaimana mereka yang disiksa, yang dihilangkan – yang kembali dan yang tidak kembali, ditangkap, ditahan dan disiksa tanpa melalui peradilan. Tak ada keadilan. Bahkan mereka yang hilang tak pernah ditemukan, dan yang menghilangkan tak pernah mendapat ganjaran.

Ada perasaan kalut dan sedih bercampur marah setelah membaca buku ini. Tokoh-tokohnya fiktif memang, tapi hal yang menginspirasi terciptanya buku ini ada. Reformasi 1998 itu nyata, penculikan aktivis itu benar-benar terjadi, dan peristiwa 1965 itu masih menghantui. Jadi, membaca Laut Bercerita terasa seperti sedang membaca sejarah yang hilang. Yang diceritakan dari sisi lain, sisi yang kelam. Mungkin sisi yang selama ini coba disembunyikan?

Dari segi penulisan, Leila S. Chudori tak perlu diragukan. Diksi-diksi yang dipilih, kalimat demi kalimat yang disusun mampu membuat peristiwa-peristiwa masa lalu itu seperti hidup kembali. Ceritanya sangat mengalir dan terus menerus mengundang tanya serta penasaran hingga akhir cerita.

Di awal-awal cerita, saat kisahnya diceritakan dari perspektif Laut, alurnya terasa cukup pelan. Pelan yang sedang, pelan yang pas, tidak buru-buru. Namun, saat cerita dikisahkan oleh Asmara, alurnya terasa agak cepat, makin cepat dan agak tergesa-gesa. Seperti benar-benar ada kemarahan, sekaligus juga ada  perasaan ingin segera ‘menemukan’. Dan di bagian ini, beberapa hal juga diulang-ulang, sehingga saat membacanya saya agak kurang menikmati. Tapi tak apa, secara keseluruhan buku ini luar biasa.

Sinopsis

Biru Laut ditangkap, ditahan entah di mana. Matanya ditutup, tangannya diikat di belakang punggungnya. Di tahanan, ia bertemu teman-teman seperjuangan, Alex, Sunu, Naratama dan kawan-kawan lain. Berhari-hari mereka disiksa, juga ditanyai pertanyaan yang masih saja sama. “Di mana Kinan?” dan lain sebagainya. Setelah hari di mana Sunu dibawa paksa dan tak kembali, giliran laut yang dibawa. Lagi-lagi, entah ke mana. Masih dengan ikatan yang sama, penutup mata apek yang membuatnya sulit bernafas sekaligus tak bisa melihat. Mobil melaju, lalu terdengar suara deru mesin perahu, lalu deburan ombak. Ia menuju laut. Ia akan melebur ke dalam laut. Laut.

Kutipan Favorit:

Matilah engkau mati

Kau akan lahir berkali-kali….

Laut Bercerita, halaman 1.

4,7/5 ★

Ingin membaca review buku Leila S. Chudori lainnya? Klik [Review Buku] Pulang, Leila S. Chudori.

2 thoughts on “[Review Buku] Laut Bercerita, Leila S. Chudori”

  1. Semengerikan itukah kak kisah dalam buku ini? Awal aku lihat buku ini aku kira ini buku gak ada kekerasannya gitu. Tp dari penjabaran kakak tadi kyknya buku ini cukup dalam.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.