Review Me Talk Pretty One Day, David Sedaris

Me Talk Pretty One Day menjadi karya David Sedaris yang pertama kali saya baca. Buku ini adalah buku non-fiksi terbitan pertama kali pada 2000 dengan 288 halaman.

Me Talk Pretty One Day terdiri dari cerita-cerita yang tidak bisa dibilang ‘biasa saja’. Mulai dari pengalaman sederhana hingga hal-hal yang di luar dugaan. Mulai dari cerita saat ia kecil yang mengalami cadel, hingga Sedaris dewasa yang pindah ke Paris lalu harus beradaptasi dengan bahasa maupun orang-orang termasuk tata cara hidup di sana. Ini semua diceritakan Sedaris dengan gaya bercerita sarkastik yang mengalir, dan tentu saja mengundang tawa.

Keluarganya menjadi salah satu yang menginspirasi Sedaris dalam bercerita. Ada kesan memang ia seolah sedang mengolok-olok ayah, ibu hingga saudara-saudaranya. Maka, saya pun berpikir bagaimana perasaan anggota keluarganya itu saat membaca buku ini, yang menceritakan ‘sisi lain’ mereka dengan kecenderungan yang tidak positif. Tapi apa pun ini, saya terhanyut dengan cerita-cerita Sedaris ini. Bahkan saat membacanya di KRL, saya jadi senyum-senyum sendiri. Saya juga, seperti saat membaca novel, terus menebak-nebak akan ke mana akhir cerita Sedaris.

Namun, ada juga beberapa hal di dalam buku ini yang sebenarnya cukup ‘mengganggu’ yakni saat Sedaris menceritakan hal-hal yang seharusnya sentimental menjadi datar. Seperti saat ibunya meninggal, Sedaris menceritakannya dengan begitu saja. Tanpa cerita-cerita detail menyentuh ataupun hal-hal lain yang emosional. Pun dengan saat anjing kesayangan keluarganya meninggal atau ayahnya yang kini tinggal seorang diri, Sedaris mengisahkannya seperti tanpa empati dan menganggap hal-hal tersebut biasa terjadi.

Tentang Apa?

Dalam Me Talk Pretty One Day, Sedaris menceritakan pengalamannya sejak anak-anak hingga dewasa. Ia bercerita tentang kisah cadel-nya, kelainan pengucapan, yang membuat bunyi huruf ‘s’ menjadi ‘th’. Di sekolah, ia mendapatkan semacam terapi dari seorang Speech Terapist. Sayang, hingga periode terapi berakhir, Sedaris masih juga belum bisa mengucapkan huruf ‘s’ dengan benar.

Beranjak dewasa, ayah Sedaris keranjingan ingin membentuk band keluarga. Sedaris dan saudara-saudaranya diminta untuk belajar alat musik. Seperti cadelnya yang tak juga hilang di akhir cerita, band ini pun berakhir hanya menjadi angan-angan belaka.

Ada pula cerita saat Sedaris saat masa-masa kuliah, meskipun akhirnya tak sampai selesai. Di sini menjadi periode pencarian jati diri seorang Sedaris, mulai dari memutuskan mengambil jurusan seni – yang ternyata ia justru merasa tak memiliki jiwa seni, hingga ia mulai berkenalan dengan obat-obatan terlarang.

Dan yang menjadi highlight adalah, cerita tentang pengalaman Sedaris belajar Bahasa Perancis. Dimulai dari pertemuannya dengan Hugh, berkencan lalu memutuskan pindah ke Paris. Sedaris betul-betul berjuang untuk belajar Perancis, mulai dari bahasanya, karakter orang-orangnya hingga budayanya. Ia benar-benar mencoba beradaptasi untuk survive dan melanjutkan hidup barunya.  

4/5 ★

Ingin membaca review buku non-fiksi lain? Klik [Review Buku] Hunger by Roxane Gay.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.