Review Buku Metamorphosis

Pertama kalinya membaca karya Kafka, ternyata se-absurd itu ceritanya. Awal membaca Metamorphosis, saya sudah merasa bosan baik dengan jalan cerita maupun gaya penulisannya. Kalimat-kalimat panjang dengan diksi yang monoton membuat saya ingin berhenti saja rasanya dan beralih ke buku yang lain. Namun, ternyata saya masih dibuat penasaran dengan bagaimana akhir dari seorang Gregor Samsa.

Saya pun melanjutkan membaca. Masih menahan rasa bosan, saya terus mengikuti alur ceritanya. Diawali dengan Gregor Samsa yang terbangun dan menemukan dirinya menjadi serangga raksasa. Dikira mimpi, ternyata itu nyata. Gregor mengalami kesulitan untuk menjalani hidupnya dalam tubuh seekor serangga. Begitu pula dengan keluarganya. Ibunya tidak berdaya, tak mampu berbuat apa-apa dan selalu ketakutan saat melihat penampakan Gregor si Serangga Raksasa. Ayahnya pun tidak jauh berbeda, bahkan sangat antipati terhadapnya. Berbeda dengan orangtuanya, Grete, adik perempuan Gregor, menunjukkan sedikit belas kasihan. Grete memberi Gregor makanan dan membuat kamarnya menjadi nyaman.

Seiring berjalannya waktu, Gregor ternyata dibiarkan kelaparan, terkurung di kamar sendirian dan cenderung dianggap beban bagi keluarganya. Ini, menurut saya, sangat tidak logis.

“Tidak semua hal harus masuk akal!” kata orang.

Ya benar, memang tidak semua hal termasuk karya tulisan seseorang harus masuk akal. Tapi, Gregor Samsa yang sedang menderita dan sedang mencoba memahami keadaan dirinya lalu dikucilkan keluarga, tidak bisa diterima oleh nalar saya.

Mungkin, si penulis memang sengaja membuat ceritanya demikian agar pembaca bertanya-tanya dan lebih jauh, agar pembaca merasakan empati terhadap Gregor. Atau, terhadap penulis itu sendiri?

Mungkin begitu, tetapi mungkin juga tidak. Saya tahu, ada banyak sekali review yang mencoba menginterpretasi Metamorphosis. Beberapa di antaranya memang masuk akal dan terdengar sangat menarik, namun beberapa lainnya ada pula yang terlalu mengada-ada dan membuat Metamorphosis makin tidak masuk akal. Namun, satu hal yang sama dari hampir semua review itu yakni menganggap buku ini adalah buku yang luar biasa.

Jadi, persoalannya mungkin ada di dalam diri saya yang tidak mampu memahami buku ini dengan baik?

Bisa jadi, bisa juga tidak. Bisa jadi si penulis memang begitu saja menulis ceritanya, tanpa sebab, tanpa alasan, tanpa tujuan, dan tanpa ada pula makna terselip di balik cerita. Bisa juga, si penulis memang punya maksud-maksud lain di balik cerita Gregor Samsa yang menjadi serangga. Si penulis mungkin bermaksud merepresentasikan keadaan dirinya. Mungkin juga, si penulis menyelipkan pelajaran hidup mendalam di dalam Metamorphosis. Misalnya begini; bahwa jika ada anggota keluarga yang menderita baik sakit fisik atau psikis hendaknya anggota keluarga lain memberikan dukungan, moril maupun materiil. Yep, bisa jadi demikian.

Namun, satu hal yang pasti adalah pembaca tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan atau dimaksudkan Franz Kafka dalam tulisannya ini. Pembaca, termasuk saya, hanya bisa menerka-nerka.

Terlepas dari semua itu, bagi saya buku ini tidak menarik, dan penulis, bisa jadi, adalah seorang yang kurang imajinasi. (Maapkeun, tapi saya bener-bener tidak bisa suka).

(1/5)

Ingin membaca review buku lainnya? Klik [Review Buku] The Alchemist, Paulo Coelho.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.