My Grandmother Sends her Regards and Apologises merupakan buku yang heart-warming, pengobat rindu kala jauh dari rumah. Membaca buku karya Fredrik Backman ini membawa kenangan-kenangan saat kita berada di tengah keluarga tercinta, kenangan baik atau buruk yang kini telah berubah menjadi (hanya) manis. Ya, semanis itu.

Cerita dari buku ini sendiri tidak berpusat pada keluarga semacam hubungan ibu, ayah, kakak atau adik. Melainkan, menceritakan tentang hubungan antara seorang gadis kecil, Elsa yang baru akan menginjak usia 8 tahun, dengan neneknya (let’s use Granny instead, ok?).

Elsa yang hidup di tengah keluarga broken home menjadi begitu dekat dan terikat dengan Grannny-nya. Meskipun di mata tetangga dan kebanyakan orang di lingkungannya, Granny adalah ‘ancaman’. Betapa tidak, Granny adalah orang yang semaunya, sering membuat kegaduhan dan mengganggu banyak orang. Tidak bagi Elsa, Granny adalah Superhero yang selalu ada untuknya. Bahkan, tanpa ia ketahui Granny melakukan semua hal-hal konyol dan bodoh tersebut hanya demi membuat sang cucu tersenyum.

Elsa yang berusia 7 tahun (hampir 8) memang dianggap ‘berbeda’ dari kebanyakan anak seusianya. Selalu punya pemikirannya sendiri, ngeyel, selalu penasaran dengan yang dilakukan orang-prang dewasa dan selalu sangat fasih meng-Google saat ia tak tahu apa yang sedang dibicarakan orang. Elsa, juga doyan memotong pembicaraan orang, memperbaiki ucapan yang salah secara grammatika dan menyimpan kosakata yang masih asing baginya.

Only different people change the world,” Granny used to say. “No one normal has ever changed a crapping thing.

Untuk anak seusianya, Elsa tergolong berani dan pintar dan tidak pernah segan untuk menyampaikan pendapatnya bahkan kepada orang-orang yang berusia jauh di atasnya. Sayangnya, karena ia ‘berbeda’ tersebut, Elsa menjadi obyek teman-temannya. Dikejar dan dipukul oleh teman-temannya menjadi makanan sehari-hari.

The currency there is imagination; instead of buying something with coins, you buy it with a good story. Libraries aren’t known as libraries but as “banks,” and every fairy tale is worth a fortune.

Di sinilah, Granny selalu ada untuk Elsa saat orangtua Elsa khususnya Ibunya sibuk dengan pekerjaan. Granny jugalah yang mengajak Elsa berpetualang, menjelajah The Land-of-Almost-Awake, dunia khayalan di mana Elsa menjadi seorang Ksatria dan story-telling menjadi sangat berharga.

Having a grandmother is like having an army. This is a grandchild’s ultimate privilege: knowing that someone is on your side, always, whatever the details.

Suatu waktu, Elsa mendengar jika Granny menderita kanker dan umurnya tidak akan lama lagi. Elsa sedih bukan main, namun tetap berusaha tegar dan tidak menunjukkan kesedihannya sama sekali di depan Granny. Sampai akhirnya, Granny benar-benar tutup usia dan Elsa seperti kehilangan pegangan.

Death’s greatest power is not that it can make people die, but that it can make people want to stop living.

Untuk Elsa, Granny meninggalkan surat waisat untuk menjaga ‘The Castle’ dan menyampaikan salam dan meminta maaf kepada beberapa orang yang telah ia kecewakan. Dari sini, Elsa memulai petualangannya, dan seolah semua tokoh di dalam dunia khayalan The Land of Almost Awake satu per satu muncul ke dunia nyata. Dari si Wolfheart, the wurse, snow-angel, dan lain-lain.

Diceritakan dari sudut pandang seorang gadis kecil berusia 7 tahun, menjadikan My Grandmother Sends Her Regards and Apologises punya cita rasanya sendiri dalam jejeran novel-novel bertema keluarga. Terlebih dengan karakter Elsa yang dibuat demikian ‘nyebelin’ namun cerdas.

Menyoroti Bullying

Dalam My Grandmother Sends Her Regards and Apologises, dikisahkan Elsa sering mendapatkan bully dari teman-temannya. Ia dikejar hingga dipukul, Elsa sering merasa ketakutan dan merasa tidak aman berada di sekolah. Tidak hanya itu, bukannya memberikan sanki kepada si pelaku bully, Elsa justru yang dianggap gurunya sebagai anak yang tidak bisa menyesuaikan diri. Hal itu menjadikan Elsa menutup diri, dan diam di tengah bully-an yang terus menerus terjadi dan semakin menjadi.

Menurut saya, kondisi seperti ini masih banyak terjadi di lingkungan sekolah. Dan ini harus menjadi perhatian kita, khususnya guru dan orangtua untuk bisa at least berkomunikasi dengan benar terlebih kepada anak-anak yang menjadi korban bully. Karena jika tidak, masa-masa tersebutlah akan membentuk kepribadian anak dan terbawa hingga dewasa.

(3,3/5)

Want to read more like this? Check out The Good Luck of Right Now.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.