Review Orang-Orang Proyek, Ahmad Tohari

Sebagai seorang insinyur sekaligus mantan aktivis kampus, Kabul yang tengah memimpin pembangunan jembatan di sebuah desa merasa memiliki tanggung jawab besar untuk membuat jembatan tersebut sebaik dan sekokoh mungkin serta sesuai standar. Terlebih, tuntutan idealisme-nya mewajibkan jembatan yang ia bangun harus mampu bertahan bertahun-tahun serta tentu, berguna bagi masyarakat.

Sayang, rencana Kabul tak berjalan semestinya. Mulai dari orang-orang proyek dengan strata terbawah hingga atasan ikut ‘menggerogoti’ proyek ini. Hal ini menyulut perang dalam diri Kabul. Apakah ia harus melaksanakan proyek sesuai perintah atasan, atau tetap menuruti idealisme yang ia pegang.

Itulah garis besar cerita buku ini, Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari. Sulitnya mempertahankan idealisme di tengah gempuran ‘ide-ide’ lain yang justru berlawanan. Apalagi pada masa Orde Baru di mana mereka yang berseberangan dengan pemerintah akan ditandai atau malah dianugerahi predikat ‘Tak Bersih Lingkungan’. Jika demikian yang terjadi, maka sulit untuk selanjutnya bisa hidup tenang atau sekadar mendapat pekerjaan yang layak. Dan, kegelisahan inilah yang coba diurai Ahmad Tohari dalam buku ini.

Dan, lebih dari itu. Relevansi pesan dari buku setebal 253 halaman ini lebih luas yakni berlaku juga pada pekerjaan di bidang-bidang lain dan dalam level yang lain pula. Saya pun merasa apa yang dialami Kabul pernah juga saya rasakan saat saya baru memasuki dunia kerja. Seringkali kita dihadapkan dengan tugas kerja yang berlawanan dengan hati nurani. Tentu, kita selalu punya pilihan baik itu tetap mempertahankan pekerjaan dan melakukan yang diperintah atasan, atau berhenti menuruti hati lalu mencari ladang nafkah yang lain.

Tak hanya soal perang idealisme yang cukup intens dan serius. Orang-orang Proyek menawarkan kisah percintaan Kabul dan Wati, yang meskipun bagi saya tidak terlalu menyita perhatian dan kuat, namun cukup memberi warna pada keseluruhan kisah.

Tak seperti pertaruhan idealisme Kabul yang menggugah, kisah kasihnya bersama Wati justru digambarkan kurang chemistry dan cenderung dipaksakan oleh penulisnya. Ada yang kurang, begitu yang saya rasakan. Pun dengan pengembangan karakter keduanya juga terasa tak begitu kuat. Apalagi dengan tokoh Wati dan Pak Tarya khususnya, seperti dicemplungkan begitu saja untuk masuk ke dalam cerita, namun tidak benar-benar memiliki hubungan erat dengan jalannya kisah.

Tetapi memang itu tak berarti membuat saya jadi tak suka ceritanya. Saya justru sangat senang Ahmad Tohari menulis cerita tentang orang-orang proyek, juga tentang orang-orang bawah khususnya. Ia sangat fasih dalam menggambarkan tindak tanduk mereka, orang-orang desa dan orang-orang pekerja pada proyek jembatan. Ahmad Tohari pun sangat apik dalam menggambarkan kehidupan di dalamnya, serta lingkungan pedesaan dan alam sekitarnya.

“Tegakkan kepalamu di hadapan mereka yang dibesarkan dengan makanan enak, serbamudah, dan mewah, tapi semuanya berbau neraka karena merupakan hasil korupsi dan hasil menipu rakyat. Percayalah, di hadapan kesejatianmu, mereka tak ada apa-apanya…”


3.5/5 ★


Ingin membaca review buku seperti ini? Klik [Review Buku] Tango & Sadimin, Ramayda Akmal.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.