Review Buku Leila S. Chudori

Pulang. Satu kata yang terasa melankolis, ya? Tepat rasanya jika Leila S. Chudori memilih Pulang untuk judul karyanya yang satu ini. Karena Pulang, menjadi gambaran kesenduan juga kerinduan sebenar-benarnya akan ‘rumah’. Pulang membawa berbagai emosi yang mampu menghanyutkan. Dan, Pulang memberi perspektif berbeda tentang sejarah kelam bangsa kita.

Mengambil setting pasca tragedi 1965 atau sering dikenal sebagai G 30 S PKI, Dimas Suryo yang menjadi buronan pemerintah Orde Baru, berkelana mulai dari Cina, Kuba lalu akhirnya memutuskan ke Paris, Perancis. Di negeri Menara Eiffel ini, Suryo janjian bersama sesama tapol (tahanan politik) lainnya yakni Nugroho, Tjai, dan Risjaf. Keempatnya akhirnya menetap di tanah asing ini, meski mereka sama-sama tahu mereka tak pernah merasa benar-benar pulang.

Tak berbeda dengan di Indonesia, saat itu Paris pun tengah memanas yang kemudian terjadi peristiwa revolusi mahasiswa pada tahun 1968. Tak hanya bagi warga Paris, peristiwa juga ikut menjadi tonggak sejarah kehidupan Dimas. Di tengah orasi mahasiswa dan panasnya Paris kala itu, Dimas bertemu Vivienne Deveraux yang kemudian menjadi isterinya. Dimas dan Vivienne pun memiliki seorang putri cantik, Lintang Utara Surya.

Sayang, kehidupan yang sudah terasa semakin lengkap ternyata tak mampu membuat seorang Dimas Surya betah dan ingin menetap di tanah kelahiran isterinya. Sebaliknya, Dimas benar-benar rindu Indonesia, dan diam-diam ia juga masih merindukan mantan kekasihnya, Surti yang telah bersuami Hananto Prawiro. Hananto adalah atasan Dimas, sekaligus sahabat dan juga gurunya. Hananto pun juga ikut menjadi buronan pemerintah Indonesia. Meski bersembunyi namun akhirnya tertangkap dan dieksekusi.

Di sini, cerita yang kompleks saling bertautan. Diceritakan dari perspektif tokoh-tokoh utama, memberikan gambaran utuh bagaimana seluruh kisah sebenarnya terjalin satu sama lain. Tokoh-tokoh silih berganti hadir mengisi namun tak pernah sekalipun membuat alurnya menjadi terlalu rumit, membosankan ataupun membingungkan. Alurnya yang maju mundur pun tak menjadi alasan untuk buku ini memusingkan. Justru sebaliknya, saya dibikin makin penasaran dan tak ingin berhenti membaca.

Sesekali, pace ceritanya dibuat pelan-pelan, namun kemudian terasa tergesa-gesa (in a good way) untuk selanjutnya pelan kembali. Ada sensasi tersendiri karenanya, selain tentu saja roller coaster emosi yang membawa saya naik turun dari sedih, senang, sedih lagi, atau menangis dan juga marah.

Buku ini rasa-rasanya terlalu sempurna, selain ceritanya yang indah dan HIDUP, gaya penulisannya juga luar biasa. Diksi-diksinya dipilih dengan begitu tepat, lalu dirangkai begitu apik, dibalut dengan cerita yang wah. A well-crafted. Benar-benar wajib untuk dibaca.

Kutipan Favorit

Dimas, ingatkah kau pembicaraan kita tentang suatu ‘gelembung kosong’ di dalam kita, yang diisi hanya oleh kau dan Dia, untuk sebuah Persatuan antara kita dan Dia yang tak bisa diganggu oleh apa pun barang seusapan. Inilah saat yang tepat untukmu untuk melihat sepetak kecil dalam tubuhmu itu. Sendirian. Berbincang, jika kau ingin. Atau diam, jika kau ingin. Dia mendengarkan.

5/5 ★

Ingin membaca review dari buku lainnya Leila S. Chudori? Klik [Review Buku] Malam Terakhir, Leila S. Chudori.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.