Review Buku Semasa

Buku Semasa jadi buku ketujuh yang kubaca di 2019. Memang sudah pertengahan tahun lebih, tapi daftar bacaanku belum mengular juga. “Memalukan!” kadang kataku pada diri sendiri. Haha.

Memutuskan membaca Semasa awalnya karena rasa haus akan bacaan-bacaan berbahasa Indonesia. Pengen baca yang ringan, tapi tanpa menghilangkan unsur menarik dalam hal penulisan maupun ceritanya. Akhirnya, pilihan jatuh pada Semasa karya Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang.

Tema dari Semasa sebetulnya sederhana, keluarga. Namun, gaya penulisan si penulis dan rangkaian kata yang dipilih menciptakan narasi yang apik dan punya daya tarik. Buku yang hanya setebal 146 halaman ini juga bukan buku yang muluk-muluk. Bukan jenis buku yang menggunakan kosakata-kosakata pretensius dan pengolahan kata yang sedemikian rupa sehingga terdengar melambung-lambung tinggi saat diibaca. Bukan, bukan buku semacam itu. Semasa, menurutku, adalah buku yang dari berbagai segi, adalah buku yang pas. Dan, itulah yang membuatku ingin terus membaca sampai akhir cerita.

Semasa berkisah tentang Coro dan Sachi, kakak beradik sepupu yang sudah lama tidak bertemu. Enam tahun lamanya, Sachi dan Coro yang begitu dekat saat masih kanak-kanak, kini justru berjarak. Tidak hanya secara harfiah Sachi di Belanda dan Coro di Indonesia. Tetapi juga hati mereka, yang entah bagaimana kini sudah tak lagi tahu cerita hidup dari masing-masing.  

Sachi dan Coro ‘ditemani’ Bapak, Bibi Sari serta Paman Giofridis kembali ke Rumah Pandanwangi untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama, semacam ajang reuni kelimanya seperti waktu-waktu yang lalu. Rumah Pandanwangi memang ditujukan sebagai rumah peristirahatan, jenis rumah yang nyaman, asri dan tentu saja penuh kenangan. Rumah ini dibangun bersama oleh Bapak dan Bibi Sari, kakak beradik yang bercita-cita membuat kenangan bersama di hari tua.

Kembalinya kelima orang ini ke Rumah Pandanwangi seperti dibawa melewati mesin waktu dan kembali ke masa lalu. Kenangan-kenangan tahun-tahun lalu datang dan mengalir begitu saja, tentang masa kecil Coro dan Sachi yang selalu bermain bersama atau sekadar membaca buku beserta dengan Bapak.

Tentu cerita menjadi terasa melankolis, saat kenangan bahagia yang dulu muncul, namun di sisi lain sudah tak lagi bisa ditemukan di masa saat ini. Terlebih, reuni kali ini menjadi yang terakhir sebelum Bibi Sari dan Paman Giofridis ke Yunani. Pun dengan Sachi, dia akan kembali ke Belanda melanjutkan studi dan membangun masa depannya di sana. Selain itu, Rumah Pandanwangi yang dicita-citakan menjadi rumah peristirahatan akan berpindah tangan ke pemilik baru. Uang hasil penjualan dibutuhkan untuk membiayai rumah Bibi Sari dan Paman Giofridis di Yunani.

Lalu yang tersisa hanya Coro dan Bapak, tentu dengan kenangan-kenangan yang masih segar di dalam ingatan. Perjuangan Bapak merelakan rumah, menerima keputusan adik satu-satunya untuk menua bersama suami dan keponakan kesayangan yang kembali ke Belanda, menjadi kesedihan  yang benar-benar bikin haru. Terlebih, membayangkan bagaimana Bapak nantinya harus berjuang sendiri melewati hari-hari tanpa orang-orang terkasih, termasuk bahkan Coro, anaknya,  yang lebih sering menghabiskan waktu di kamar kos.

Semasa sangat layak untuk dibaca. Perpaduan cerita sederhana dan narasi yang kuat mendekatkan buku ini ke pembaca. Tentu saja, aku akan menunggu karya-karya baru penulisnya. Semoga segera.

“Burung-burung itu – usia mereka berapa, ya? Kalau rata-rata burung berusia tiga tahun, mungkin aku pernah bertemu dengan buyut dari buyut mereka. Tiga tahun saja. Ah, betapa pendek. Bagaimana ingatan bekerja pada mereka? Belum hilang ingatan akan akan hal-hal yang kau jumpai di masa awal hidupmu, kau sudah mati. Belum cukup dekat kau dengan sesuatu, kau sudah meninggalkannya. Apakah itu menjadikan perpisahan tidak terlalu menyedihkan? Atau sebaliknya, justru lebih menyakitkan?”

Halaman 76

(4,2/5)

Ingin membaca mereview buku serupa? Klik Aku, Meps dan Beps.

1 thought on “[Review Buku] Semasa – Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang”

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.