Review Snow, Orhan Pamuk

Menelurusi masa lalu yang dirindukan setelah bertahun-tahun menjadi eksil politik di negeri orang, Ka pergi ke Kars – salah satu Kota miskin di Turki. Tak hanya berbekal ‘ingin mengenang’, sejatinya ia juga berniat memboyong wanita pujaan hatinya ke Frankfurt, Jerman, untuk menjadi isterinya. Di usianya yang tak lagi muda, Ka memang tengah menimang calon teman hidup. Ia teringat Ipek, yang didengarnya telah menjanda. Dan Ipek, bersama ayah dan adiknya saat ini tinggal di Kars.

Tiba di Kars, ternyata perjalanannya tak hanya soal Ipek atau masa kecilnya, ada hal-hal besar lain yang terjadi. Gadis-gadis berkerudung bunuh diri, pengangguran merajalela hingga konflik kekuasaan menghantui kota itu. Berbekal surat tugasnya, Ka meliput keluarga-keluarga yang terlibat, ia menyusuri jalan-jalan yang telah ditempuh gadis-gadis mudia belia yang memutuskan mengakhiri hidup. Tak mudah, Ka mulai sadar jika kegiatannya tengah diikuti, percakapan teleponnya disadap, dan ia menjadi bulan-bulanan berbagai pihak.

Ka, yang di awal cerita digambarkan sebagai seorang yang gagah, ganteng dan gentlemen semakin terkesan naif saat cerita mulai bergulir. Kenaifannya berkutat pada kegiatannya mencari tahu kenapa gadis-gadis itu bunuh diri, niatnya mendamaikan berbagai pihak, bahkan hingga ambisinya untuk bersama Ipek. Cukup sulit buat saya untuk menyukai Ka, sebagai tokoh utama. Namun, penggambaran keadaan sosial, ekonomi dan politik Kars di sini sangat jelas dan hidup. Miris, namun juga menyentuh dengan narasi yang begitu apik. Ada juga nada-nada melankolis yang bisa kita rasakan dalam penggambaran karakternya. Bahkan, setiap karakternya seperti saling membawa kesenduannya sendiri.

‘Snow’ merupakan buku yang penting. Buku setebal lebih dari 400 halaman ini berkisah tentang kehidupan sosial, ekonomi, politik di tengah konflik sekularisme dan agama di Turki — yang relevansinya sepertinya masih terasa hingga sekarang.

‘Snow’ juga merupakan buku yang menawarkan penggambaran mendalam akan seni, kemanusiaan dan pencarian akan Tuhan.

Kutipan favorit:

“How much can we ever know about the love and pain in another’s heart? How much can we hope to understand those who have suffered deeper anguish, greater deprivation, and more crushing disappointments than we ourselves have known? Even if the world’s rich and powerful were to put themeselves in the shoes of the rest, how would they really understand the wretched millions suffering around them?”

Page 259

4/5⁣⁣ ★

Untuk membaca ulasan buku dengan tema serupa, klik [Review Buku] Laut Bercerita, Leila S. Chudori.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.