Review Tango & Sadimin, Ramayda Akmal

Untuk menyambung nyawa, orang bisa melakukan apa saja. Nini Randa misalnya yang sejak kecil hidup sebatang kara, beranjak dewasa justru memilih menjadi penjaja seks komersial. Sadimin pun tak jauh berbeda. Ia mengerjakan cara-cara picik untuk mendapatkan kekayaan, memeras hingga menjual barang-barang haram. Atau, Haji Misbah, yang dikenal alim namun diam-diam melakukan larangan-larangan Tuhan. Lalu, ada pula Tango dengan kehidupannya yang nelangsa sebagai anak jalanan. Hidup dari meminta, mengamen sampai ‘dipelihara’ Nini Randa ia jalani demi menlanjutkan kehidupan.

Itulah tema besar Tango & Sadimin karya Ramayda Akmal, yakni bertahan hidup. Kerasnya kehidupan yang dialami orang-orang pinggiran diulik begitu mendalam dengan bumbu-bumbu kisah kearifan lokal. Segar, menghibur, membuka mata, seringkali bikin mengernyitkan dahi, dan juga penuh hal-hal filosofis yang bisa menjadi bahan perenungan.

Dari segi penulisan, saya juga sangat menikmati. Narasi panjang penuh metafora memberikan keutuhan gambaran peristiwa di dalam cerita. Gaya bercerita yang demikian itu juga membuat Tango & Sadimin begitu nikmat untuk dilahap pelan-pelan. Hanya saja, ada beberapa bagian cerita yang terasa memunculkan pertanyaan namun tak terjawab hingga akhir cerita. Mungkin ini juga satu misteri yang hanya diketahui penulisnya, dibiarkan begitu saja untuk kembali pada pemahaman pembaca.

Lalu, alur ceritanya. Pada awal membaca, saya merasa ceritanya agak membingungkan. Saya pun membaca kembali ke halaman pertama untuk bisa meneruskan. Kemudian, ada pula saat-saat di mana saya ingin kembali lagi ke halaman sebelumnya, memastikan benar tidaknya pemahaman saya terhadap jalannya cerita. Urung, saya tetap lanjut membaca hingga akhirnya saya menjadi cukup paham kisah Nini Randa akan dibawa ke mana.

Ya, memang. Alurnya yang maju-mundur membuat sedikit membingungkan. Ini jugalah yang menjadi alasan lain yang membuat saya membacanya secara perlahan. Lama-kelamaan, saya malah jadi begitu menikmati. Lembar demi lembar, kisah demi kisah kemudian terkuak dan terangkai menjadi kesatuan cerita yang saling berkaitan.

Sinopsis

Seorang bayi terbawa hanyut kala banjir melanda desa tepi sungai Cimanduy. Si bayi terombang-ambing di atas lesung, terbawa arus dan tersangkut dekat pondok reot Nini Randa. Nini Randa kemudian menyelamatkan si bayi dan merawatnya. Saat Nini Randa meninggal, si bayi harus hidup seorang diri. Ia lalu tumbuh tanpa siapa-siapa, bertahan hidup dengan memakan yang disediakan alam untuknya. Ini menjadi permulaan kerasnya kehidupan si bayi yang kemudian dewasa dikenal sebagai Nini Randa.

Tak mengenal norma, adat, maupun tata krama, Nini Randa hanya belajar dari apa yang dialami dan diamatinya. Pengalaman pula yang kemudian menuntun Nini Randa menentukan jalan hidupnya. Ia menjadi wanita tuna susila, melayani laki-laki mulai dari nelayan, para penambang pasir hingga mandor pada pembangunan jembatan atau siapa saja yang membutuhkan jasanya.

Dari apa yang dikerjakan Nini Randa ini, ia kemudian ‘kedatangan’ tokoh-tokoh lain dalam cerita hidupnya. Cainah, Tango, Sadimin, hingga Haji Misbah ikut mewarnai kehidupan Nini Randa, begitu pula sebalinya.

3.6/5 ★

Ingin membaca review buku seperti ini? Klik [Review Buku] Killing Commendatore, Haruki Murakami.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.