Review The Alchemist

“Because I don’t live either in my past or my future. I’m interested only in the present. If you can concentrate always on the present, you’ll be a happy man.”

Halaman 85

Aku ketinggalan. Baru setelah The Alchemist terjual lebih dari 65 juta copy, aku membacanya. Itupun setelah terlebih dulu mencicip karya si penulis yang terbaru, Hippie. Gaya menulis dan ide ceritanya tenyata kesukaanku. Cerita-cerita filsafati meliputi perjalanan menuju pencerahan diri, perjalanan menemukan tujuan hidup, cinta hingga spiritual kutemukan di buku-buku Paulo Coelho ini.

Di The Alchemist, Paulo Coelho tidak menawarkan kisah yang bombastis. Cerita yang disuguhkan tentang pemuda biasa, pemuda penggembala dari Spanyol. Santiago namanya. Baginya, menggembala membuatnya bisa berkeliling negeri dan menemukan tempat-tempat baru yang selalu membuatnya bahagia.

Meskipun seorang penggembala, Santiago ternyata memiliki cita-cita besar. Dia ingin berkelana ke negeri-negeri seberang. Beberapa kali, dia juga bermimpi akan hal yang sama yakni menemukan harta karun di Piramida, Mesir.

Setelah bertemu seorang Gipsy yang dapat menafsir mimpi, Santiago bertekad bulat untuk memperjuangkan mimpinya. Dia ingin berkelana dan menemukan harta karun di Piramida.

Akankah mimpi itu terwujud?

Untuk mewujudkan mimpinya, Santiago harus menyeberangi lautan, melewati padang gurun gersang. Belum lagi rintangan-rintangan lain yang menghadang. Di bagian inilah, kekuatan storytelling seorang Paulo Coelho mampu membuat kisah ini menjadi mengesankan. Bahkan, bagiku, kisah Santiago si Penggembala ini sulit untuk dilupakan.

Terlebih, hal-hal yang digambarkan oleh Paulo dalam novel pertamanya ini sangat dekat, denganku khususnya. Beberapa hal bahkan yang kuyakini selama ini. Jadi, mana bisa dilupakan? Satu hal lagi, buku ini pun tak membutuhkan penalaran ekstra untuk memahaminya. Sesederhana ide ceritanya, diksi dan gaya penulisannya pun dapat dengan mudah dipahami.

Selain itu, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari The Alchemist. Salah satunya, bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Seperti seorang penggembala domba yang bisa berkeliling dunia, berusaha mewujudkan mimpinya. Dan yang paling penting, milikilah keyakinan akan apa yang diinginkan, dan percaya bahwa alam semesta akan bekerja sedemiakan rupa, membantu kita mewujudkan mimpi itu.

(4,7/5)

Ingin baca review buku serupa? Klik Hippie by Paulo Coelho.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.