the vegetarian by han kang review

Setelah menyelesaikan Hunger by Roxane Gay, saya memutuskan untuk membaca The Vegetarian karya penulis Korea Selatan, Han Kang. Sudah lama saya ingin membaca buku ini. Dari review-reviewnya yang oke, pun dengan judulnya yang bikin bertanya-tanya; tentang apa, bagaimana karakter-karakternya, bagaimana alur ceritanya, dan lain sebagainya.

Review

Buku ini terdiri nggak lebih dari 200-an halaman, membuat saya optimis bisa cepat selesai membacanya. Dan ternyata benar, dua hari saja yang saya butuhkan untuk melahap buku terbitan Hogarth ini. Membaca buku ini memang cukup mudah, dalam arti; dari kalimat satu dengan kalimat lainnya mudah dipahami. Namun yang cukup menyita waktu adalah alur ceritanya yang kadang maju kemudian mundur lagi, maju lagi dan mundur lagi. Jadi, harus alon-alon asal kelakon 🙂

Ada tiga bagian di dalam The Vegetarian yakni The Vegetarian, Mongolian Mark dan The Flaming Trees. Masing-masing bagian diceritakan dari sudut pandang orang yang berbeda. Pertama The Vegetarian, diceritakan dari perspektif suami Hyeong-hye, Mr. Cheong. Sementara bagian kedua diambil dari sudut pandang In-hye, saudari Hyeong-hye, dan bagian ketiga diceritakan dari sudut suami In-hye. Dari ketiga perspektif tersebut digambarkan bagaimana perasaan dan struggle mereka menghadapi Hyeong-hye, yang menjadi pusat cerita.

Hyeong-hye, seorang wanita muda dan baru menikah memutuskan menjadi seorang vegetarian. Yep, secara tiba-tiba dan jelas membuat terkejut suaminya. Kabar ini kemudian sampai ke telinga keluarga besarnya. Terutama ayah Hyeong-hye, ia murka sejadi-jadinya. Ditambah lagi, Hyeong-hye yang memutuskan berhenti untuk makan daging-dagingan termasuk ikan nggak menerapkan diet yang benar. Ia kekurangan gizi, tubuh kurus dan mengkhawatirkan.

Nggak cuma itu, hilangnya nafsu Hyeong-hye untuk makan daging juga diikuti hilangnya kepedulian akan rumah tangga dan kehidupan sosialnya. Ditambah lagi, ia jadi insomnia dan bahkan seperti orang hilang akal. Saat ditanya oleh Mr. Cheong, suaminya, tentang alasannya memutuskan jadi vegetarian, Hyeong-hye cuma jawab, “aku mimpi.” Sehari-hari, Hyeong-hye jadi pendiam bahkan jika suaminya bertanya, ia hanya menjawab satu dua patah kata saja.

Dengan sikap Hyeong-hye yang demikian ini, saya ngerasa kesal banget saat membaca bagian ini. Bayangin aja, ditanya panjang cuma dijawab seperlunya dengan nada datar dan muka tanpa ekspresi. Jangankan peduli dengan kondisi rumah, kehidupan sosial atau keluarga besarnya, Hyeong-hye bahkan seperti tidak lagi peduli dengan dirinya sendiri.

Secara keseluruhan, The Vegetarian bagi saya sangat intriguing. Mimpi-mimpi kelam Hyeong-hye yang terdiri dari adegan-adegan berdarah, ambisi-ambisi ‘aneh’ dari karakter-karakter lain, drama keluarga dan hasrat-hasrat seksual yang nggak biasa menjadikan buku ini menarik dan sayang untuk dilewatkan. Percaya deh, judulnya yang The Vegetarian cuma ngegambarin secuil dari rentetan kejadian-kejadian luar biasa yang dialami karakter-karakternya. Kamu nggak akan nyangka!

Rating: 4/5

Kutipan favorit:


I want to swallow you, have you melt into me and flow through my veins.

The Vegetarian, halaman 121

Want to read more like this? Go check out The Goldfinch by Donna Tartt.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.