Review To Kill A Mockingbird

To Kill A Mockingbird diterbitkan pertama kali pada 11 Juli 1960. Kini, setelah setengah abad buku tersebut diterbitkan, karya Harper Lee ini sudah terjual puluhan juta copy. Ajaibnya, meski sudah puluhan tahun usianya, pesan-pesan yang disampaikan buku ini masih terasa relevan dengan kehidupan saat ini. Keren? Tentu.

Setidaknya, ada lima tema besar dalam To Kill A Mockingbird yakni rasisme, diskriminasi gender, dunia pendidikan dan parenting. Diceritakan melalui sudut pandang seorang anak berusia enam tahun, Jean Louis ‘Scout’ Finch, tema berat ini dibuat terasa ringan tanpa menghilangkan unsur kecemerlangan ceritanya. Apalagi dengan karakter Scout yang  jenaka, pintar, punya rasa penasaran yang tinggi dan berani, membuat ceritanya semakin menarik dengan unsur-unsur menyentil di sana-sini.

Dalam buku ini, gaya bercerita Harper Lee juga asik sekali. Ini tercermin dengan caranya menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat yang membentuk narasi lugas, cerdas dan penuh makna. Selain itu, terasa sekali jika narasi yang disusun Lee ini tak ada maksud menggurui. Namun, Justru mengalir begitu saja, halus dan tahu-tahu saya dibuat terpana pada saat kalimat tersebut selesai dibaca.

Hal lainnya yang bikin penasaran adalah; alur ceritanya yang dibuat mundur. Dengan diceritakan mulai dari masa yang sudah lalu untuk kemudian maju, saya benar-benar dibuat penasaran tanpa menghilangkan kenikmatan membaca. Ahhh, Harper Lee ini benar-benar tahu betul bagaimana membuat pembacanya tergila-gila.

Selain itu, saya pun menjadi terobsesi dengan cara Atticus Finch mengajari Scout dan Jem. Sebagai seorang orangtua tunggal, Atticus seperti tahu betul bagaimana harus bersikap. Saya pun selalu dibuat terkagum-kagum terhadap jawaban-jawaban Atticus untuk setiap tanya anak-anaknya.

Salah Satu Buku Terpenting Sepanjang Masa

To Kill A Mockingbird adalah paket lengkap. Kombinasi gaya penulisannya apik dengan cerita yang sangat luar biasa menjadikan buku ini sebagai salah satu buku terpenting sepanjang masa. Terbukti, tema-tema yang diangkat begitu membumi, bahkan tak lekang dimakan waktu, serta bisa kita ambil pelajaran hingga masa kini.

Asyiknya lagi, To Kill A Mockingbird ini adalah buku yang bisa dibaca semua kalangan usia. Anak-anak, remaja, orang dewasa hingga paruh baya bisa membaca buku pemenang Pultizer 1961 ini.

Sinopsis

Jean Louis ‘Scout’ Finch hidup bersama ayah dan kakaknya, Atticus dan Jem Finch. Ia juga sangat dekat dengan pembantunya, Calpurnia, seorang kulit hitam yang sangat dipercaya ayahnya.

Scout dan Jem tengah melewati masa kanak-kanak, dengan segala permasalahan dan hal-hal baru yang mengundang penasaran. Sementara, ayahnya yang juga seorang pengacara sedang menangani kasus yang berat. Kasus pemerkosaan seorang gadis kecil kulit putih yang dituduhkan kepada seorang berkulit hitam. Dan, Atticus mencoba membuktikan jika si terduga pemerkosa adalah orang yang tidak bersalah. Hal ini juga kemudian mengundang tanya anak-anaknya. Terlebih lingkungan yang sangat rasis kala itu, selalu mendesak dan menyudutkan keluarga Finch untuk berhenti membantu sang terduga bersalah.

5/5 ★

Ingin membaca review buku serupa lainnya? Klik Little Fires Everywhere by Celeste Ng.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.