Review Buku Women karya Charles Bukowski

Henry Chinaski berusia setengah abad. Ia hidup sebagai seorang mantan pegawai di sebuah kantor pos, tukang mabuk dan pecandu wanita. Setiap hari, ia menenggak anggur, bir atau whisky. Tentu saja, sampai lupa diri hingga hilang kesadaran sering ia alami. Tak kapok, di pagi hari ia akan melanjutkan mabuk kembali.

Setiap malam, wanita silih berganti datang ke rumah Chinaski. Ada yang hanya numpang bercengkrama. Banyak pula yang berakhir di ranjang dan menghabiskan berhari-hari bersama. Chinaski juga seringkali memelototi wanita tanpa ia sadari, dengan memperhatikan mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia juga sering memperhatikan wanita-wanita saat di bar langganan, atau mereka yang ia temui saat berpapasan di jalan.

Chinaski juga ingin menjadi seorang penulis. Katanya, dia menulis karena ingin menulis. Itu saja. Tak ada alasan materi atau ketenaran yang ia cari. Semata-mata, Chinaski ingin menulis. Dalam tulisan-tulisannya, ia seringkali menyisipkan wanita-wanita yang pernah singgah di hidupnya. Baik yang benar-benar ia cinta, atau mereka yang hanya numpang lewat saja.

Premis Women sebenarnya sederhana saja; Henry Chinaski seorang pemabuk yang doyan bergonta-ganti wanita. Namun, gaya bercerita Charles Bukowski membuat Chinaski benar-benar hidup dengan karakter yang demikian kuat. Bukowski bercerita dengan teramat jujur dan berani, membuat pembaca benar-benar masuk ke dalam cerita tanpa ada rahasia. Bahkan, diksi-diksi yang dipilih membuat kalimat-kalimat dalam novel ini menjadi sangat puitis tanpa dibuat berlebihan.  

Ini, saya bilang, adalah masterpiece. Sebuah karya sastra yang dibuat sebegitu mempesona dan luar biasa. Saya tersihir ketika membacanya. Tak ingin berhenti, tak ingin pula cepat selesai. Saya suka cara bertutur Bukoswki yang serius, apa adanya tanpa lupa menyisipkan satu dua humor di tengah cerita. Saya juga kagum bagaimana Bukowski tidak setengah-setengah dalam berkisah. Dia berani, frontal dan tidak tanggung-tanggung meluapkan emosinya.

Namun, gaya bercerita Bukowski yang demikian bisa jadi membuat buku ini (atau mungkin karya-karyanya yang lain) bukan favorit semua orang. Tidak semua orang suka kejujuran, sepertinya. Hahaha. Terlebih, buku ini juga berisi aktivitas seks atau minum-minuman keras, konsumsi ganja dan lain sebagainya yang digambarkan secara eksplisit. Tapi, bagi kamu yang ingin mencari ‘lebih’, karya sastrawan Amerika satu ini sangat layak untuk dicoba.

5/5

It’s like making a rosebud open, I thought. This has meaning. This is good. It’s like two insects in a garden moving slowly towards each other. The male works his slow magic. The female slowly opens. I like it, I like it. Two bugs. Mindy is opening, she is getting wet. She is beautiful. Then I mounted her. I slid it iin, my mouth on hers.

Halaman 78

Ingin membaca review buku serupa? Klik The Goldfinch by Donna Tartt.

1 thought on “[Review Buku] Women, Charles Bukowski”

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.