Review Carry On by Rainbow Rowell; Being Gay in A Wizarding World

Yang saya suka dari beberapa karya Rainbow Rowell yang pernah saya baca – Fangirl, Eleanor & Park, Attachments, dan Landline– adalah alur ceritanya yang sederhana, berkisah seputar hal-hal yang dialami banyak orang, tetapi berbeda. Ada feel yang unik dalam setiap “pembawaan” Rowell di setiap karyanya.

Carry On berbeda. Tidak disangka, judulnya yang sederhana menyimpan cerita yang jauh dari praduga saya. Tidak bisa dibilang sedikit, Carry On memiliki sentuhan Fangirl – FYI, buku pertama Rowell yang saya baca. Yups, tokoh Simon di dalam Fangirl dibawa Rowell ke dalam perjalanan yang seru. Hidup di dunia sihir, sekolah di dunia sihir, Watford School of Magicks serta berteman dengan teman-teman penyihir.

Simon dijuluki The Chosen One, tetapi Baz – teman sekamarnya – memanggilnya the worst Chosen One ever chosen. Walaupun berteman, keduanya tidak pernah akur.  Tetapi waktu membawa keduanya dalam kondisi berbeda. Di tahun terakhir di Watford, Baz tidak menampakan diri. Simon, anehnya merasa bertanggung jawab atas keadaan tersebut. Dia berusaha mencari tahu keberadaan teman sekamarnya. Perasaan aneh menghinggapinya, antara senang, penasaran, rindu bahkan cenderung terobsesi dengan absennya Baz.

Setelah beberapa minggu, di suatu siang, saat hall utama dipenuhi siswa untuk menyantap makan siang, Baz muncul. Bahagia, kesal, Simon tidak tahu harus merasa bagaimana dengan kemunculan Baz.

Satu rahasia yang disimpan Simon selama Baz menghilang akhirnya bisa dia utarakan. Baz tidak menyangka hal tersebut bisa terjadi saat dirinya tidak ada. Penny, sahabat dekat Simon, tidak terima rahasia tersebut tidak diceritakan kepadanya. Namun ternyata, rahasia tersebut menuntun Simon, Baz, Penny kepada pintu-pintu lain rahasia di dunia sihir.

Petualangan, persahabatan dan kisah cinta yang unik digambarkan dengan baik oleh buku ini. “kok begini?” salah satu pertanyaan saya saat membaca salah satu bagian buku. Ada pula bagian yang membuat saya sangat sangat penasaran tentang siapa Simon sebenarnya. “Apakah Simon Normal (sebutan untuk manusia biasa di Carry On)?

By the way, di chapter-chapter awal – harus saya akui – saya merasa cukup bosan dengan ceritanya. Why? Karena saya merasa kisahnya memiliki kemiripan dengan Harry Potter. Saya yakin pecinta Harry Potter yang membaca buku ini juga akan merasakan hal yang sama. Any way, setelah melewati beberapa chapter, akhirnya saya menemukan bagian dimana saya memutuskan untuk menyukai Carry On.

Dari kisah Simon, Baz dan Penny, saya mendapatkan pelajaran, mencintai seseorang itu bisa dengan berbagai cara. Bahkan, cara-cara aneh yang tidak menggambarkan perasaan cinta itu sendiri.

“You were the sun, and I was crashing into you. I’d wake up every morning and think, ‘This will end in flames,”― Rainbow Rowell,

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer