Review City of Bones (The Mortal Instruments #1), Cassandra Clare

Kenapa aturan atau hukum sulit untuk dijalankan? Sekalipun bagi si pembuat aturan itu sendiri, terkadang ‘pengatur’ ini berat untuk diimplementasikan. Tetapi, aturan inilah yang berusaha dijalankan oleh kaum Shadowhunters, pemburu iblis. Aturan ini pula yang menjadi pedoman bagi kaum mereka sehingga bisa hidup aman dan damai bersama kaum-kaum lainnya, vampir, werewolf, nightchildren, dan sebagainya.

The law is hard, but it is the Law.

Sementara itu, Clarissa Fray yang menganggap dirinya manusia biasa merasa tidak memiliki kewajiban untuk menaati peraturan dalam dunia tersebut. Dia sudah terasing, bahkan sengaja diasingkan oleh ibunya sendiri. Hingga akhirnya, takdir jua lah yang menuntunnya kembali harus memasuki dunia yang ingin selamanya ingin ditinggalkan oleh sang ibunda.

Kejadian yang menimpanya begitu tiba-tiba, bahkan ‘penglihatan’ yang dialaminya seperti mimpi belaka. Ibundanya menghilang, bahkan seisi rumah porak poranda. Tanpa barang berharga hilang, hanya lukisan ibunya yang terkoyak, Clarissa Fray kebingungan. Tidak hanya itu, Ia pun baru menyadari jika ia bisa melihat dunia selain dunia manusia. Ia panik, tak tahu harus berbuat apa. Pertemuannya dengan Jace Wayland, Isabelle dan Alec Lightwood di sebuah klub gothic ternyata merupakan satu jalan yang menuntunnya pada siapa dirinya sebenarnya.

Berjudul City of Bones, ini merupakan buku Cassandra Clare pertama yang saya baca. Ceritanya sangat Young Adult alias fiksi remaja, meskipun di pengenalan Clare mengatakan jika buku ini tidak ditujukan secara spesifik untuk genre tersebut. Bahasanya sederhana, diksi yang digunakan pun sangat umum. Di awal-awal, alur ceritanya sangat bisa tertebak. Sikap Clarissa Fray sebagai tokoh utama pun menurut saya terlalu klise, terlalu dispesialkan (atau memang seharusnya semua tokoh utama begitu ya? Hmmm). Sementara itu, akhir ceritanya nanggung dan sedikit membingungkan (but, I am not gonna spoil it or anything, but really its kinda confusing). Tidak ada klimaks, kurang greget. Si penulis seolah bimbang akan akhir ceritanya. Atau, mungkin sengaja dibuat demikian agar kita tertarik untuk membaca sekuel lanjutannya, City of Ashes. Well, I look forward to it. Semoga lebih baik dari buku yang pertama ini.

Oh ya, buku ini juga sudah diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama. Di Indonesia, filmnya rilis 28 Agustus 2013 yang lalu. Lily Collins menjadi pemain utamanya, Clarissa Fray, dan Jace Wayland diperankan oleh Jamie Campbell Bower. Namun, saya sendiri belum pernah menonton filmnya. Ada yang sudah pernah menonton filmnya?

(3,5/5)

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer