Review film Joker

Sebelum menonton Joker, aku bilang ke suami bahwa menonton film ini akan membuatku (mungkin kamu juga) merasakan perasaan seperti saat aku melihat saudara-saudara tunawisma, atau saat melihat mereka yang harus hidup dengan ‘meminta’. Lalu, aku pun betul-betul menyiapkan mental untuk menonton film ini.

Jalan Cerita

Joker 2019 menghadirkan Joaquin Phoenix sebagai pemeran utama, yakni Arthur Fleck, atau Joker itu sendiri. Berdurasi 122 menit, film ini merupakan standalone kisah Joker yang biasanya kita lihat di film-film hero Batman. Film yang disutradarai Todd Philips ini ber-setting di Gotham pada masa kota itu masih kelam tahun 1980-an. Saat itu, kejahatan begitu merajalela, ketimpangan si miskin dan kaya begitu melebar, dan kaum marjinal begitu marah dengan politisi-politisi yang hanya menampilkan manipulasi.  

Pusat cerita adalah pada Arthur, atau sering dipanggil Happy oleh ibunya, Penny Fleck. “Put on a happy face,” katanya, di tengah kondisi hidup yang tak pernah memungkinkan untuk tersenyum. Bersama ibunya, Arthur hidup di sebuah apartemen seadanya, dengan baju lusuh, dan hidup ala kadarnya.

Arthur menjadi badut untuk menafkahi ibunya. Sayang, ia menerima bully-an akan profesinya tersebut. Pekerjaan satu-satunya itu pun akhirnya harus ia relakan, karena kejadian tak terduga yang ia alami. Ia semakin depresi dan gila. Namun, ia masih menggantungkan harapan akan cita-citanya menjadi komedian. Ia masih berharap suatu hari hidupnya akan berubah.

Selain depresi dan cenderung gila, Arthur juga menderita penyakit yang menyebabkan ia tak bisa sepenuhnya mengontrol otaknya. Ia bisa tertawa terus menerus, meskipun ia sedang tidak merasa lucu akan sesuatu. Dan suatu hari, penyakitnya ini membawa malapetaka. Namun tak disangka, petaka ini justru ‘membangunkannya’.

Review

Selama dua jam lebih menonton Joker membuatku kurang nyaman. Aku terbius dan tak bisa berkata apa-apa. Yang aku pikirkan saat itu tak hanya filmnya dan kondisi Arthur saja, namun juga kondisi di masyarakat khususnya di sekitar lingkunganku hidup. Aku memikirkan kakek-kakek yang kutemui tempo hari, atau ibu-ibu tua yang kulalui dan kuacuhkan begitu saja. Rasanya aku tertampar sekali.

Selain itu, perjalanan Joker yang memilukan, baik ia yang menerima kekerasan fisik maupun psikis, lalu kegilaannya yang semakin menjadi-jadi menyakitkan. Aku seperti merasakan apa yang digambarkan dalam film. Lalu, aku pun mengernyitkan dahi dan tertegun tak percaya saat melihat adegan-adegan kekerasan yang sangat eksplisit dan cenderung brutal.

Melalui Joker film, kita seperti diajak bercermin dengan ditampilkannya konflik-konflik sosial yang terasa relatable dengan kondisi masyarakat, baik di sini di Indonesia, atau mungkin yang terjadi di belahan dunia mana saja. Dan apa-apa yang dialami Joker bisa saja atau memang sedang menimpa seseorang di lingkungan kita.

Kemudian, aku merasakan simpati terhadap Joker, seorang yang digambarkan sebagai penjahat berdarah dingin meskipun semula Joker adalah seorang yang termarjinalkan. Muncul pula seperti alibi, pembenaran bagi kejahatan yang dilakukan oleh Joker.

Gelap, mungkin itu satu kata yang sangat tepat untuk film ini. Ya, betul-betul gelap cerita yang dihadirkan Todd Philips melalui kisah Joker ini. Dari menonton berbagai film hero maupun anti-hero sebelum-sebelumnya, tak ada yang begitu menyayat, gelap, kelam dan begitu mendalam seperti Joker. Ini betul-betul film yang begitu ‘hit me to the core’.

Tak hanya dari segi cerita, sinematografi yang begitu apik dengan iringan musik soundtrack-nya membuat adegan-adegan dalam Joker begitu artistik dan memukau. Pun dengan penampilan akting Phoenix, benar-benar total dan membuat penonton tak bisa berkata-kata.  

Sayangnya, Joker yang sering dikaitkan dengan tokoh heroik Batman tidak menjadikan film ini diperuntukkan untuk semua usia. Kekerasan fisik dan siksaan mental yang begitu kuat, membuat menonton ini butuh kebijaksanaan dalam berpikir. Apalagi dengan tema dan pesan cerita yang sangat provokatif, film Joker rasa-rasanya bisa menjadi berbahaya jika ditonton oleh mereka yang memiliki perspektif salah.

Selamat menonton, dan sekali lagi, jangan lupa siapkan mental terlebih dahulu.

5/5

Ingin membaca review artikel serupa? Klik Red Sparrow.

(Sumber foto: imdb.com)

1 thought on “[Review Film] Joker”

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.