[Review Film] Love, Simon

LGBTQ di masyarakat kita saat ini sepertinya bukan lagi hal baru. Terlepas dari pro kontra yang ada, tidak sedikit juga masyarakat yang mulai menerima atau setidaknya mencoba dan berusaha menerima ‘perbedaan’ ini. Tidak mudah, dan belum banyak yang termasuk ikut dalam ‘gerakan’ tersebut memang. Tetapi hari demi hari, gerakan itu semakin terlihat. Dan kita semakin (dibuat) terbiasa dengan slogan ‘It’s okay to be different’ atau tagar #LoveWins.

Beberapa tahun belakang, gerakan itu juga tidak lagi hanya sebatas gerakan underground. Kini mereka tampil ke permukaan, terlihat, go public dan merasuki berbagai aspek kehidupan. Tak terkecuali, dampaknya bisa kita rasakan pada film-film yang kita tonton, atau musik yang kita dengarkan. Dua hal ini menjadi yang paling ‘terkena’ ‘hype’ dari LGBTQ.

Call Me by Your Name, Carol, Thelma, The Danish Girl, well- the list goes on, adalah beberapa di antara film dengan tema LGBTQ. Bahkan, beberapa di antaranya tidak hanya berlatar di kehidupan modern saat ini. Tetapi, jauh sebelum kaum LGBTQ buka-bukaan seperti sekarang, tahun-tahun lampau bahkan terinspirasi dari kisah nyata di mana film-film ini dibuat dijadikan latar belakang film-film tersebut.

Bersamaan dengan semakin terbukanya kaum LGBTQ muncul pula gerakan ‘mulai menerima’ dan ‘terbuka’ akan hal tersebut di kalangan masyarakat secara umum. Dan ini pula lah yang saya rasakan saat menonton film Love, Simon.

Simon, seorang remaja laki-laki yang mulai merasa dirinya berbeda dan mengidentifikasi diri sebagai homoseksual, ketakutan akan persepsi yang muncul dalam keluarga, teman-temannya, lingkungan sekolah dan masyarakat jika dia mengatakan ia adalah seorang gay. Namun ternyata, ia salah. Teman-teman, keluarga, guru-gurunya menerima perbedaan yang ia miliki. Dan justru, ‘coming-out’ Simon memantik keberanian-keberanian lain. Satu per satu, beberapa teman Simon muncul dan mengakui dan bangga menjadi seorang gay.

Di sini, film ini seolah menyiratkan bahwa kaum gay di manapun berada tidak perlu merasa takut untuk menjadi diri sendiri, menjadi gay. Menjadi pesan tersendiri juga bagi orang-orang terdekat mereka, untuk bisa menerima jika seseorang yang mereka sayangi adalah gay.

Film ini sangat heart-warming dan terlepas dari saya sendiri yang belum tahu apakah saya setuju terhadap LGBTQ atau tidak, saya bisa bilang film ini bagus dan sayang untuk tidak ditonton.

Beberapa bintang yang terlibat Love, Simon di antaranya Nick Robbinson (Simon), Katherine Langford (Leah), Josh Duhamel (Ayah Simon).

So, were you keen to know what’s inside a gay person pre or post coming out, I suggest you watch this movie.

(7/10)

Want to read more like this? Check out Call Me by Your Name.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer