Private Life

Kenapa ya, seenggak bagus-enggak bagusnya film Netflix hampir selalu punya keunikan tersendiri? Atau, ini sudah menjadi semacam doktrin khususnya bagi saya sendiri jika film-film Netflix itu memang bagus-bagus. Saya sendiri suka mencari-cari film dengan cerita-cerita unik, nggak klise dan kalau bisa yang memang betul-betul yang bisa bikin ternganga-nganga. Lalu, dalam pencarian saya itu, saya ‘dipertemukan dengan Private Life.

Private Life sinopsis, dibuka dengan adegan ‘ranjang’ di mana seorang laki-laki memegang tubuh bagian bawah seorang perempuan yang sedang berbaring di kasur. Seperti yang kalian kira, saya pikir adegan pembuka ini bakalan menjadi adegan panas. Tetapi, ternyata itu adalah adegan di mana si suami Richard Grimes (Paul Giamatti) sedang membantu menyuntikan obat kesuburan untuk istrinya, Rachel (Kathryn Hahn). Ini merupakan bagian dari terapi yang mereka jalani untuk memperoleh keturunan. Sebagai informasi, keduanya sudah mencoba berbagai cara dan belum membuahkan hasil tetapi tak patah arang, pasangan yang sudah lewat kepala empat ini tetap mau berusaha dan terus mencoba segala cara demi mendapatkan buah hati.

Tema yang tidak biasa dengan premis yang sebetulnya sederhana, yakni tentang sepasang suami istri yang berusaha mendapatkan buah hati. Namun, dalam prosesnya ternyata tak sesederhana yang dikira. Melewati kegagalan demi kegagalan, percobaan demi percobaan, lagi dan lagi, kita dibawa merasakan emosi pasangan suami istri ini. Saat harapan muncul kembali setelah satu percobaan gagal, kita dibawa ikut berharap, akankah kali ini membuahkan hasil? Gagal. Lalu, kita dibuat berharap kembali mungkinkah kali ini Rachel dan Richard bisa menimang buah cinta mereka?

Private Life review, menurut saya film berdurasi 2 jam 5 menit ini begitu jujur, well-acted, dan cerita yang tak muluk-muluk namun tetap bermakna. Akting Hahn sangat meyakinkan, begitu pula dengan Giamatti. Keduanya juga berhasil membangun chemistry yang kuat. Dengan genre drama komedi, film pertama sutradara Tamara Jenkins setelah vakum 11 tahun ini mampu membuat saya tertawa, sekaligus merasa miris di beberapa bagian. Serta, sesekali, ada bagian di mana saya ingin ikut menangis terharu.

Sebagai penonton, saya menunggu-nunggu bagian di mana saya akan bilang ‘akhirnya’ tetapi, tidak ada ‘akhirnya’. Private Life adalah film yang akan membawa kita hadir dan ikut bermain perasaan, ikut merasakan harapan, ikut merasakan kesedihan, ikut merasakan keputusasaan Richard dan Rachel. Atau bahkan, ikut merasakan perasaan pasangan-pasangan lain yang memiliki nasib serupa. Beginikah?

Secara keseluruhan, film ini dibuat dengan sangat pandai. Jenkins sang sutradara sukses membuat kacau perasaan bahkan hingga akhir film. Satu hal yang kurang, durasinya yang terlalu lama menjadikan beberapa momen terasa membosankan. Namun selebihnya, Private Life adalah a must-watch!

4/5

Want to read more like this? Go check out Home Again.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.