[Review Film] The Kissing Booth: Roman Picisan Ala Remaja yang Menghibur

Kadang ada masa di mana saya ingin nonton film-film cheesy, seperti kisah cinta remaja dengan alur cerita yang bisa dengan mudah diprediksi. Selain tidak membuat otak berpikir terlalu keras, film-film semacam ini kadang bisa benar-benar menghibur. The Kissing Booth dengan genre romance-comedy menjadi salah satu pilihan saya.

The Kissing Booth, salah satu film paling populer di Amerika Serikat, keempat setelah Deadpool 2, Avengers: Infinity War and Solo. Di Netflix, film berdurasi 105 menit ini selalu masuk dalam daftar popular meskipun di kalangan kritikus film, film ini tidak terlalu disukai.

The Kissing Booth film diadaptasi dari The Kissing Booth novel karya Beth Reekles (fyi, ini populer di Wattpad). The Kissing Booth bercerita tentang remaja bernama Elle (Joey King) yang jatuh hati pada Noah Flynn (Jacob Elordi), kakak dari sahabatnya sendiri Lee Flynn (Joel Courtney). Karena takut melanggar janjinya pada Lee, Elle mencoba menyembunyikan dan menahan perasaanya tersebut. Di satu sisi, sikap Noah yang sangat protektif terhadap Elle menuai pertanyaan. Tak segan-segan, Noah bahkan mengancam dan akan berkelahi dengan siapa saja yang mendekati Elle. The rest of the story? You guess!

Oh ya, judul The Kissing Booth mengacu pada konsep acara yang dibuat Lee dan Elle untuk menggalang dana di sekolahnya. Di sini, siswa-siswi diperkenankan untuk mencium ‘bintang’ (anak-anak populer) The Kissing Booth dengan syarat membayar sejumlah uang.

Beberapa Bagian Terasa Kurang Logis

Persahabtan Elle dan Lee dijalin sejak mereka kecil. Keduanya membuat berbagai peraturan untuk menjaga ikatan tersebut. Salah satunya, mereka tidak boleh menjalin hubungan cinta dengan kakak atau adik sahabatnya. Di sini, sikap Lee saat mengetahui Elle memiliki perasaan terhadap Noah kurang pas dan terlalu dipaksakan. Serta, kurang logis rasanya jika seorang sahabat begitu marah (dalam arti berlebihan) saat mengetahui sahabatnya berbahagia.

Okay, mungkin bisa saja Lee awalnya marah. Namun, seharusnya tidak berlebihan seperti yang terjadi pada film.

Selanjutnya, Elle memakai rok super mini di hari pertama sekolah. Karena rok seragam sekolah yang seharusnya dia pakai robek, dan seragam cadangannya sedang di-laundry, Elle terpaksa mengenakan rok sekolahnya terdahulu. Anehnya, kenapa memilih rok yang sudah tidak layak dipakai tersebut ketimbang memakai rok atau baju lain yang lebih pantas (selain seragam sekolah)?

Lalu, mengenai konsep The Kissing Booth itu sendiri. Saya bertanya-tanya, apa iya ada sekolah bahkan di AS sekalipun yang oke dengan membiarkan siswa-siswinya saling berciuman bahkan jika itu untuk acara amal? Rada absurd saja rasanya, di mana anak-anak SMA dengan sukarela mengeluarkan uangnya untuk bisa berciuman. Dan sebaliknya, anak-anak yang menjadi ‘bintang’ di The Kissing Booth kok ya mau dengan mata tertutup, mencium siapa saja yang ada di hadapannya.

Hal-Hal Klise di Mana-Mana

Seperti yang sudah saya ungkapkan di awal, menginginkan film klise dan hal-hal klise juga yang saya dapatkan. Apa saja?

The OMG Girls. Geng gadis-gadis populer yang suka nge-bully? Sepertinya ada di mana-mana ya. Di film-film lain juga sudah tidak asing dengan geng gadis pembully ini. Di sinetron-sinteron Indonesia apalagi.

Benci tapi cinta. Elle memang punya perasaan terhadap Noah, namun dia sering sekali bertengkar dengannya. Baik karena hal-hal sepele, hingga hal-hal lainnya. Eh tapi, diam-diam suka memikirkan si dia.

Scene di airport yang.. cliché not cliché. Kenapa saya menyebutnya demikian, tak lain karena saya melihat adanya usaha dari para sineas pembuat film ini untuk membuat The Kissing Booth ending atau khususnya saat scene di bandara agar tidak klise. Namun sayangnya, ujung-ujungnya jadi klise juga.

Menghibur dan Relatable dengan Kehidupan Remaja

Meskipun banyak hal yang membuat film ini jadi kurang seperti sudah disebutkan di atas, The Kissing Booth tetap mampu menghibur. Dengan cerita klise, roman picisan ala remaja, serta kisah persahabatan Elle dan Noah, film yang disutradari oleh Susan Johnson ini sangat relatable dengan kehidupan remaja. Jadi, tidak heran kalau film ini banyak diminati. Dan saya yakin, kebanyakan yang menonton film ini adalah remaja-remaja dan atau para wanita muda yang suka dengan kisah cinta romantis namun ringan.

3/5

Want to read more like this? Go check out Lady Bird.

1 comments On [Review Film] The Kissing Booth: Roman Picisan Ala Remaja yang Menghibur

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer