Review The Girl on The Train: Dilema Tiga Wanita

Rachel, seorang alkoholik dan menderita depresi berat. Hidupnya tidak lagi memiliki tujuan sejak suaminya meninggalkannya demi wanita lain.

Setiap hari, Rachel bepergian menggunakan kereta. Di dalam kereta, dia selalu melihat ke arah luar. Rumah-rumah berderetan, menampilkan kehidupan penghuninya, penuh tawa, dan kebahagiaan. Hal yang tidak pernah ia dapatkan. Matanya selalu tertuju pada sebuah rumah di mana sepasang kekasih, entah suami isteri, selalu terlihat mesra dan saling mencintai satu sama lain, Megan dan Scott.
Waktu berjalan, Rachel mulai merasa adanya “keterikatan” dengan Megan dan Scott. Di sebelah rumah mereka, hidup pula sepasang suami isteri dengan bayi mereka, Tom dan Anna yang tidak lain adalah mantan suami Rachel dengan isteri barunya. Kebahagiaan terlihat selalu menyelimuti keluarga kecil tersebut.

Suatu hari, Rachel mendengar kabar jika Megan menghilang. Ia merasa hal tersebut berkaitan dengan dirinya. Kondisi tersebut menuntun Rachel menyelami kehidupan-kehidupan Megan dan Scott, bahkan dia ikut menjadi saksi kasus hilangnya Megan. Rachel pun tidak pernah mengira bahwa dirinya kini menjadi bagian dari kehidupan Megan dan sang suami, meski dengan keadaan yang berbeda.

Novel yang ditulis Paula Hawkins ini dikisahkan dari tiga perspektif, Rachel, Megan dan Anna. Unik, namun alur ceritanya tetap mudah dipahami. Penggambaran depresi yang dialami dapat kita rasakan dalam “aku” dalam perspektif masing-masing karakter, dari awal hingga akhir cerita. Mulai dari kisah klasik munculnya orang ketiga dalam suatu hubungan, dan bagaimana cerita dari sudut pandang “orang ketiga” tersebut dikisahkan.

Dengan penggambaran yang detail, novel peraih Goodreads Choice Award untuk Best Mystery & Thriller, mampu “mempemainkan” emosi pembaca. Kita juga bisa merasakan kesedihan dan depresi yang dirasakan karakter-karakter, khususnya Rachel. Sebagai pembaca, saya juga merasa sangat penasaran untuk segera menyelesaikan membaca novel tersebut sehingga mengetahui ending dari cerita.

Film The Girl on The Train Kuasai Puncak Box Office

Baru-baru ini saya juga menonton film “The Girl on The Train”. Disutradarai Tate Taylor, sosok Rachel, Megan, dan Anna digambarkan sebagai wanita-wanita beparas menawan dan perawakan yang molek nan seksi. Untuk alur ceritanya, tidak begitu berbeda dengan novel-nya. Namun begitu, kecepatan alur di dalam film lebih lambat dibanding di dalam novel. Ada bagian-bagian di mana seharusnya bisa diberikan penggambaran lebih detail akan tokoh-tokohnya, tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik oleh sutradara.

Di akhir cerita – versi film – saya merasa kurang sreg. Karena saat membaca bukunya saya lebih merasa tegang dibandingkan saat melihatnya dalam film.

Aktris Emily Blunt didapuk sebagai Rachel. Namun, karakter yang ia bawakan dan acting-nya  kurang kuat. Film mystery thriller yang seharusnya menegangkan dan “gelap” tidak begitu terlihat. Rotten Tomatoes juga hanya memberikan nilai 44% saja. Sangat berbeda dengan prestasi novelnya, yang mendapatkan nilai hingga 3,9 dari 5 oleh Goodreads.

Meskipun demikian, di Amerika Serikat, film The Girl on The Train sempat memuncaki Box Office mengalahkan Miss Peregrine’s Home For Peculiar Children, dengan pendapatan USD 24,7 juta.

“The holes in your life are permanent. You have to grow around them, like tree roots around concrete; you mould yourself through the gaps,” -Paula Hawkins

1 comments On Review The Girl on The Train: Dilema Tiga Wanita

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer