The Good Luck of Right Now, Matthew Quick

Apa impianmu saat kelak kamu berusia 40? Atau, bagi Anda yang sudah atau segera memasuki kepala empat, apa saja yang sudah Anda capai dalam hidup?

Orang bilang usia 40 merupakan usia di mana seorang sedang mapan-mapannya, baik ekonomi, asmara, keluarga, pertemanan dan lain sebagainya. Saya kira hal tersebut tidak hanya berlaku di masyarakat kita saja (baca: Indonesia) tetapi juga di luar sana, negeri tetangga atau yang nun jauh di sana.

Tetapi apa jadinya jika kondisi yang ada justru berkebalikan dengan harapan yang dipegang sebagian orang di dunia. Itulah yang dialami Neil Bartholomew, di usianya yang hampir kepala empat, dia tidak memiliki tujuan dalam hidupnya. Jangankan tujuan, keinginan pun tak punya. Selama tiga puluh sembilan tahun hidupnya, ia habiskan dengan ibunya. Membantu, menemani setiap hari, merawat, menghibur, menemani ke gereja, ke pasar atau sekadar menonton film kesayangan.

Terlebih di tahun-tahun akhir hidup ibunya, Bartholomew benar-benar mengabdikan seluruh hidupnya. Saat ibunya berubah, hilang kendali, hingga tak lagi mengenali anaknya sendiri. Bartholomew bahkan berpura-pura menjadi orang lain, menjadi Richard Gere, aktor kawakan idola ibundanya. Satu nama yang selalu diucap ibunya, bahkan hingga akhir hayat.

Dari sinilah, Richard Gere menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Bartholomew. Gilanya, Bartholomew sampai-sampai menjadikan si aktor sebagai ‘sahabat’. Ia pun ‘berkorespondensi’ dengannya melalui surat, meskipun ia sendiri tidak percaya diri jika surat tersebut sampai di tangan aktor pemain film Pretty Woman itu. Dari surat-surat itulah sebenarnya buku The Good Luck of Right Now ini dirangkai.

Yups, cukup unik memang. Diceritakan dari sudut pandang Bartholomew, dari surat-surat curhatannya kepada Richard Gere, kehidupan sekelilingnya menjadi terkesan sedikit lebih absurd ketimbang hidup orang-orang kebanyakan. Namun, di sinilah pesan moralnya menjadi begitu mengena. Bagaimana tidak, bayangkan Anda seorang laki-laki berusia 39, tidak punya teman apalagi kekasih, tidak ada keluarga, pengangguran dan satu hal yang Anda tahu hanya cara merawat ibu. Apa yang akan Anda lakukan?

Selain itu, dari segi cerita alurnya biasa saja. Bahkan cenderung sedikit membosankan di halaman-halaman awal. Penggunaan diksi yang dipilih Mr Quick juga biasa, namun sisi lainnya, menjadikan cerita mudah dipahami dan straight to the point. Namun, konflik dan bagaimana ceritanya disusun menurut saya ini yang luar biasa. Ditambah dengan keunikan karakter dan konflik-konflik yang dialami oleh tokoh-tokohnya.

Di situasi Bartholomew yang kehilangan arah, hadirlah tokoh-tokoh lain yang menjadikan hidupnya lebih ‘berwarna’. Mulai dari Father McNamee yang kekeh untuk meninggalkan kepasturannya dan memilih tinggal bersama Bartholomew, dan Wendy yang menjadi konselornya. Tidak sampai disitu, konflik semakin menarik dan menggemaskan saat hadirnya The Girlbrarian dan kakaknya, Max. Kakak beradik yang sama-sama bernasib apes dan tak tahu sama sekali mau apa atau kemana hidupnya akan dibawa.

Pesan

Frasa The Good Luck of Right Now sendiri merupakan ungkapan dari sang ibu yang percaya, saat keberuntungan memihakmu, ada orang lain yang sedang menderita. Saat kebahagiaan di tanganmu, ada orang lain yang sedang dirundung susah. Ia percaya, kehidupan selalu menawarkan keseimbangan. Di mana ada duka, ada pula suka. Di mana ada tawa, maka ada tangis. Di mana ada si miskin, maka ada si kaya, ada cantik dan ada si buruk rupa dan begitu seterusnya. Sehingga, jika tidak ada salah satunya, maka tidak ada semuanya.

Itulah yang selalu ditanamkan ibunda Bartholomew kepada anak semata wayangnya. Ini membuatnya selalu bersyukur karenanya, bahkan ketika nasib buruk menghampiri. Karena dia senang orang lain sedang berbahagia karenanya, entah di mana ia, di belahan bumi yang berbeda sekalipun.

Selain itu, buku ini juga menawarkan harapan bagi orang-orang merasa selama ini hidupnya biasa-biasa saja, bagi orang-orang yang merasa usianya sia-sia atau mereka yang merasa gagal sebagai manusia. Tidak perlu ragu untuk mencoba hal baru, untuk bergerak maju bahkan jika usia Anda sudah terhitung matang. Ingat, tidak ada kata terlambat. Or else, better late than never, right?

“No. What happens to things is not important. Pray that your heart will be able to endure whatever happens to you…”

(3.5/5)

 

Want to read more like this? Check out A Little Life.

1 comments On The Good Luck of Right Now, Matthew Quick

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer