Sad Girls by Lang Leav

Penggemar buku dimana pun berada sepertinya sedang terkena demam puisi. Karya-karya Rupi Kaur misalnya, atau Lang Leav. Puisi seperti kembali digemari bahkan oleh anak-anak muda sekalipun. Saya sendiri kurang tertarik. Bukan berarti saya tidak menyukai puisi, hanya bagi saya kurang greget saja jika kumpulan puisi ‘dilahap’ sekaligus. Puisi bagi saya punya ‘kesakralan’ yang bisa dinikmati tidak hanya dengan semata-mata ‘dibaca’. Tetapi itu personal choice. Masing-masing dari kita mempunyai preference tersendiri. Dan, dari buku-buku kumpulan puisi Lang Leav, saya lebih memilih debut novelnya ‘Sad Girls’.

Harus saya akui, Lang Leav menulis novel pertamanya ini dengan sangat indah. Romantis dan sangat puitis. Alur ceritanya tidak tertebak, lalu caranya dikemas pun begitu apik, rapi dan menggugah. Dengan membaca ‘Sad Girls’, saya dibawa menjelajah ke berbagai emosi, sedih, senang, marah, jengkel dan kembali sedih, senang lagi. Begitu menghanyutkan, meskipun saya pikir Lang Leav bisa lebih dari ini (dari berbagai karya kumpulan puisi-nya yang sudah menjadi best-seller di berbagai negara).

“Our emotions pull us in different directions. The stronger the emotion, the greater the pull”

Meskipun demikian, di awal cerita sedikit agak membosankan karena kita dibawa menebak-nebak apa yang sebenarnya sedang disampaikan. Kemudian, memasuki pertengahan atau tepatnya chapter 14, ceritanya mulai menarik dan sulit untuk ditinggalkan. Dan, saya dibawa penasaran bagaimana perjalanan tokohnya akan berakhir.

“I think it’s because we romanticize the past. We give it more than it deserves”

Untuk cerita ‘Sad Girls’ sendiri tentang perjalanan pencarian jati diri seorang Audrey. Mulai dari menemukan apa yang dia cari hingga menyadari jika hal tersebut bukanlah hal yang benar-benar dia cari. Audrey juga memiliki impian dan talenta sebagai seorang penulis. Dikisahkan jika menjadi seorang penulis terkadang membutuhkan waktu dan tempat untuk mencurahkan kisahnya. Bahkan, penderitaan bisa membuat seorang menjadi penulis hebat. Bahkan, karya akan lebih dikenal dan disukai jika ‘dikeluarkan’ di waktu yang tepat.

“Writers take things that are deeply personal, things said to them in confidence, often during moments of great intimacy, and strip them down into words. Then they take those words, naked and vulnerable, and give them to the world”

Lang Leav dengan Sad Girls-nya patut mendapat acungan jempol. Belum bisa dibilang jenius, tetapi dia sangat pandai menghidupkan cerita dengan rangkaian kata yang ‘powerful’ tetapi dalam waktu bersamaan juga sangat melankolis. Sayangnya, untuk akhir ceritanya sendiri menurut saya kurang oke. Di mana kisah perjalanan Audrey untuk menjadi seorang penulis seperti tergantikan oleh kisah cintanya. Saya berharap di situ saya bisa mengetahui bagaimana Audrey menyikapi perjalanannya dan bagaimana dia akan melanjutkan ‘karir’ menulisnya. Dan bagian inilah yang membuat ceritanya kurang lengkap.

“I learned that writing is the consolation prize you are given when you don’t get the thing you want the most”

(4,3/5)

4 comments On Sad Girls by Lang Leav

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer