Tentang Open-minded

Salah satu fotografer ternama, mengunggah foto pernikahan sesama jenis. Dalam foto tersebut, nampak dua orang wanita cantik berciuman dengan latar pemandangan alam yang indah. Keduanya nampak bahagia. Mengenakan gaun pengantin yang sama anggunnya, penampakan di foto tersebut seperti menggambarkan dua manusia yang sedang bahagia-bahagianya.  

Mata saya pun tertuju pada salah satu komentar di kolom komentar postingan tersebut. Dengan like dan komentar terbanyak, komentar tersebut mampu menyundul dan jadi yang teratas. Komentar tersebut berbunyi seperti ini, “tolong jangan terus menerus mempromosikan pernikahan sesama jenis. Ini akan mendorong orang-orang melakukan hal serupa. Hal ini sangat tidak patut dan sangat bertentangan dengan ajaran agama Kristen maupun Islam.”

“Dengan segala hormat. Enyah kau! (fuck off),” jawab si empunya postingan. Saya kaget, dan berpikir, “kok bisa dia sekasar ini.”

Tidak sampai di situ. Di bawah komentar si fotografer, wanita-wanita lain turut memberikan komentarnya yang hampir kesemuanya berisi hujatan dan makian terhadap si wanita yang pertama kali berkomentar.

“Masih ada ya orang seperti kamu. Hari gini masih berpikiran sempit. Open minded dong,” begitu kata salah satu komentar.

“Kamu menjijikan. Cinta ya cinta. Jangan sebarkan kebencian. Jadi orang yang tuh yang open-minded dong,” bunyi komentar lain.

“Menjijikan,” kata komentar lainnya.

“Betapa menyedihkannya punya pikiran sempit seperti kamu. Ke laut aja sana!”

Dan seterusnya.

Setidaknya ada 60 komentar serupa dan terus bertambah jumlahnya.

Yang cukup menggelitik adalah, ketika si wanita kedua berkomentar atas nama ‘asas keterbukaan pemikiran’ namun menyerang argumen si wanita pertama dan secara implisit menyuruhnya berpendapat sepertinya. Begitu pula dengan si fotografer yang selama ini mengaku open-minded, berkata kasar kepada si wanita karena memiliki pendapat berbeda.

Lalu, apakah ini yang dinamakan open minded; menolak dan menentang dan menyerang mereka yang berpendapat berbeda?

Apakah open-minded berarti hanya menerima, say, trend atau belief terbaru lalu meninggalkan yang lama (aka. menganggap belief lama sebagai hal yang primitif)?

Sesempit itu?

Tidak, saya di sini tidak ingin membahas tentang pernikahan sesama jenis atau LGBTQ. Tidak. Itu bukan hal yang ingin saya soroti dengan menulis artikel ini.  Di sini, yang ingin saya garis bawahi adalah tentang keterbukaan pemikiran yang diagung-agungkan, namun disalahartikan?

Ironis rasanya, terlepas dari salah benar si wanita pertama yang berkomentar. Terlepas dari salah benar si fotografer mengunggah foto pernikahan sesama jenis.

Yang terasa salah menurut saya adalah, saat ada orang berpendapat berbeda lalu dihujat dengan sebegitunya. Lalu mereka mengatakan, “kok kamu nggak open-minded sih?”

P.s. Renungan ini muncul ‘terinspirasi’ dari hasil scrolling timeline Instagram pagi-pagi.

Ingin baca artikel serupa? Klik Kursi Pojok untuk Lansia.

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.