Suicidal thought. Pernah mendengar atau mengalami? Pemikiran untuk bunuh diri adalah salah satu dari sekian tanda seseorang merasakan depresi berat, yang cenderung mengarah kepada tindakan untuk mengakhiri hidupnya. Seram ya? Namun, ini juga salah satu tanda bagi kita untuk membantu orang tersebut, sebelum semuanya terlambat.

Baru-baru ini, tema tersebut sedang hype karena diangkat oleh Netflix dalam serial terbarunya “13 Reasons Why”. Tetapi, dalam artikel ini saya tidak dulu akan membahas serialnya, saya akan membahas bukunya. Ya, “Thirteen Reasons Why” adalah novel  bergenre fiksi remaja karya Jay Asher, seorang novelis berkebangsaan Amerika Serikat. Buku ini diterbitkan pertama kali pada 2007, dan pada 2011 masuk dalam daftar buku best-seller New York Times. Jumlah halaman di dalam buku ini terbilang cukup tipis, hanya 288 halaman saja. Tetapi lewat lembar demi lembar halamanannya, kita bisa mengetahui dan menyelami pemikiran orang yang mengalami depresi.

Berbicara tentang alurnya, sederhana. Cukup sederhana dan mudah dimengerti. Thirteen Reasons Why berkisah tentang kehidupan anak remaja, SMA tepatnya yang penuh dinamika dan terkadang drama. Satu hal lagi yang tidak bisa dipungkiri, bullying. Mungkin di antara kita juga pernah mengalami hal serupa saat masa-masa sekolah, SD, SMP, SMA. Hal-hal yang terkadang dianggap sepele ternyata punya dampak besar terhadap seseorang.

To be honest, saya sendiri tidak terlalu menikmati buku ini. Bagi, saya alur cerita Thirteen Reasons Why terlalu cheesy. Selain itu, ada satu hal yang sangat menganggu. Di sini, suicide atau bunuh diri seolah dianggap sesuatu yang “wah”, yang dijadikan solusi mengakhiri masalah. And, I just think this is not something should end. Maybe things just don’t need to end. In addition, I’m afraid this Hannah Baker’s story may inspire others to legitimate of doing so.

Tetapi sisi baiknya, Thirteen Reasons Why membuka mata pembaca tentang bagaimana bullying terjadi di institusi pendidikan, tempat di mana seorang anak seharusnya belajar dan mendapatkan hal-hal baik untuk meraih masa depannya. Buku ini membuat kita lebih aware – bila kita seorang guru, harus lebih peduli lagi terhadap apa yang terjadi pada anak didik kita. Begitu halnya untuk para orangtua. Masa remaja begitu rentan dan labil, adanya orang-orang yang supportive terhadap anak bisa menjadi ‘pegangan’ mereka untuk selalu on the right track.

(3,3/5)

Sinopsis Thirteen Reasons Why

Sepulang sekolah, Clay Jensen menerima paket mencurigakan, tanpa disertai alamat si pengirim. Buru-buru, Clay membawanya ke dalam rumah. Ia pun membuka paket tersebut. Di dalamnya, beberapa tujuh buah kaset tertumpuk. Penasaran, ia pun bergegas mengambil stereo sang ayah di garasi. Dan, ia mulai memainkan kaset tersebut satu demi satu, sisi demi sisi. Seiring kaset satu dan lainnya ia putar, hidupnya pun berangsur berubah.

3 thoughts on “Thirteen Reasons Why: Bullying dan Kehidupan Remaja di Sekolah”

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.