Wonder Woman, Kisah Superhero dengan Bumbu Feminisme

Penggemar film superhero seperti saya pasti sangat menanti film yang satu ini. Wonder Woman. Yup, layaknya kompetisi, Marvel dan DC terus berlomba-lomba mengeluarkan film-film hero terbaiknya. Jika di Marvel ada Thor yang merupakan titisan dewa, DC punya si ‘Wanita Hebat’ alias Wonder Woman, putri dari Zeus, si Dewa Langit.

Diceritakan, Wonder Woman dibuat Zeus dari tanah liat. Ditiupkannya roh, kemudian dititipkannya kepada seorang wanita ksatria bernama Hippolyta. Tinggal di negeri surga, Themyschira, Hippolyta memimpin kaum Amazon. Tidak ada satu orang pun lelaki di negeri tersebut, hanya wanita. Tangguh, bernyali besar dan pandai bertarung. Di sana, Diana si Wonder Woman hidup. Menjadi satu-satunya kanak-kanak.

Themyschira memang seperti layaknya surga. Pemandangan indah terhampar di segala penjuru, memanjakan mata. Namun, kedamaian tersebut ternyata hanya fatamorgana. Bayang-bayang masa lalu selalu menggantung di pelupuk mata, tak terlihat namun tetap ada. Ares, si dewa perang, adalah musuhnya.

Saat usianya masih sangat belia, si putri kecil Ratu Amazon sudah memendam keinginan untuk bertarung. Melihat latihan-latihan yang rutin dilakukan, kaummnya, Diana kecil memiliki ketertarikan besar untuk bisa ikut berlatih. Sayang, sang ibu tidak mengijinkan. Tetapi ia tidak tinggal diam. Bersama saudari si ibu, Antiope, Diana berlatih keras untuk menjadi ksatria tanpa sepengetahuan ibunya. Saat mengetahui hal tersebut, ibunya murka. Namun akhirnya, Antiope berhasil membujuknya untuk mengijinkan Diana berlatih bersamanya dan ksatria-ksatria lainnya.

Dewasa, keahlian bertarung Diana pun menjadi luar biasa. Sampai suatu hari, ia melakukan hal yang tidak terduga. Membuat seluruh Themyscira terhentak. Seperti yang lain, Diana pun tidak menduga. Hingga akhirnya ia berlari, mencari tempat untuk bersembunyi. Tak disangka, sebuah pesawat memasuki negerinya. Bersama dengan pilotnya, pesawat tersebut terjun bebas ke lautan luas. Diana pun berusaha menyelamatkan sang pilot yang tenggelam, Steve Trevor. Dari sinilah, awal mula petualang Diana hingga akhirnya ia bisa mengungkap siapa dirinya yang sebenarnya.

Ada sisi feminisme di dalam film Wonder Woman. Diana dewasa dengan segala kesempurnaannya, bentuk tubuh tinggi semampai, paras ayu nan menawan menarik atensi pria mana saja. Di jalan, di mana saja, semua pria menggodanya. Meskipun demikian, sebesar apapun kekaguman pria terhadapnya, tidak menjadikan Diana “lebih” dari para pria. Tetap, pria-pria ini menganggap kemampuan dan kepandaian Diana tidak lebih dari mereka. Ia diragukan. Sampai akhirnya, di medan perang ia membuktikan bahwa ia lah yang bisa menghentikan peperangan tersebut, menyelamatkan jutaan jiwa manusia, menyelamatkan dunia.

Wonder Woman, film ini juga menunjukan betapa manusia seringkali dibutakan oleh nafsu, serakah dan ingin memiliki segalanya. Tapi sejalan dengan sifat-sifat buruknya, manusia pun memiliki rasa cinta kasih yang bisa mengalahkan segalanya termasuk keburukan yang selama ini mengungkung mereka.

Well, dari segi cerita, alurnya sangat mudah ditebak. Bisa dibilang, sedikit klise. Jalan ceritanya tidak jauh berbeda dengan kisah superhero lainnya. Berpusat pada kenangan Diana di masa lalu, pada masa zaman perang dunia masih berkecamuk. Ditambah sedikit bumbu-bumbu gurauan, this movie – to me, is mainly for entertainment purpose (what’s else though? Hehe). Sebenarnya saya berharap lebih dari Wonder Woman, tetapi tak apa lah karena gambar dan special effect-nya sangat keren dan memanjakan mata (PS. I didn’t bring my glasses with me, my vision was a bit blurred, so yeah shame on me).

Oh ya, Gal Gadot parah banget ya cantiknya? I envy her. :p

(6,5/10)

Favorite Line(s)

“I am Steve Trevor’s secretary,” Steve Trevor’s secretary

“What is a secretary?” Diana

“Well, I do everything. I go where he tells me to go and

I do what he tells me to do,” Steve Trevor’s secretary

“Where I am from, that’s called slavery,” Diana

Official Trailer Wonder Woman 2017

1 comments On Wonder Woman, Kisah Superhero dengan Bumbu Feminisme

Your Thoughts?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer